Gerrit Augustinus Siwabessy, Bapak Atom Indonesia dan Pencetus Puskesmas

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Gerrit Augustinus Siwabessy
Gerrit Augustinus Siwabessy
grosir-buah-surabaya

Di balik megahnya fasilitas kedokteran nuklir modern dan sistem jaminan kesehatan yang dinikmati jutaan rakyat Indonesia hari ini, ada jejak pengabdian mahabesar dari seorang putra terbaik Maluku. Sosok legendaris itu adalah Prof. dr. Gerrit Augustinus Siwabessy.

Lahir di Negeri Ullath, Pulau Saparua pada 19 Agustus 1914, ia tumbuh dari anak yatim seorang petani cengkih menjadi ilmuwan kelas dunia. Sepanjang kariernya, Siwabessy dipercaya melintasi dua era kepemimpinan nasional—mulai dari Menteri Badan Tenaga Atom Nasional era Presiden Soekarno hingga menjadi Menteri Kesehatan legendaris di era Presiden Soeharto.

Masa Kecil yang Ditempa Jarak dan Julukan 'Upuleru' di Kampus NIAS

Kehidupan awal Siwabessy dipenuhi tantangan. Ayahnya meninggal saat ia baru berusia satu tahun. Beruntung, ibunya kemudian menikah dengan Yakub Leuwol, seorang guru sekolah dasar yang terpandang. Ke mana pun sang ayah tiri dipindahtugaskan di pelosok Ambon, Siwabessy kecil ikut serta demi mengecap pendidikan. Perjuangan sekolahnya tidak mudah; dua kakak laki-lakinya harus bergantian menggendong Siwabessy kecil menempuh jarak yang jauh demi bisa sampai ke kelas.

Kecerdasannya yang menonjol mengantarkannya meraih beasiswa berharga di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya pada 1931. Di kampus kedokteran bergengsi inilah cakrawala kebangsaannya terbuka lebar melalui persahabatan lintas suku, termasuk dengan tokoh seperti Ibnu Sutowo dan Rubiono Kertopati.

Di kalangan teman-teman seperjuangannya, Siwabessy mendapat panggilan takzim: Upuleru, yang dalam bahasa asli Maluku Tengah berarti "dewa" atau "pelindung". Nama baptis adat inilah yang kelak ia abadikan sebagai judul memoar pribadinya pada tahun 1979.

Berani Melawan Diskriminasi Kolonial di Cepu

Sesaat sebelum Jepang masuk ke Indonesia pada akhir 1941, Hindia Belanda berada dalam status darurat perang dan kekurangan dokter. Siwabessy yang telah lulus tingkat Semi Arts langsung diterjunkan sebagai dokter penuh di pusat pengeboran minyak BPM di Cepu, Jawa Tengah.

Di sinilah integritasnya diuji. Seorang perawat senior Belanda bertubuh besar, Zuster den Helder, menolak mentah-mentah dipimpin oleh seorang inlander (pribumi) berkulit hitam dan berambut keriting. Setiap perintah Siwabessy selalu ditentang secara terbuka. Pertengkaran hebat pun pecah, hingga Direktur Rumah Sakit turun tangan dan memperingatkan sang perawat bahwa Siwabessy adalah dokter yang sah dan kompeten. Peristiwa ini menjadi bukti keteguhan sikap Siwabessy di tengah diskriminasi rasial zaman kolonial.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, ia mengungsi ke Surabaya dan terdampar di Bagian Radiologi Rumah Sakit Simpang.

"Sebetulnya beta tidak terlalu tertarik pada radiologi... Namun demi kelangsungan hidup, beta rela bekerja dalam bidang radiologi. Tidak kuduga ketika itu, bahwa keputusan yang kuambil secara terpaksa ini akan menentukan jalan hidup kemudian," kenang Siwabessy dalam memoarnya.

Pilihan darurat itu justru menuntunnya menjadi pakar radiologi nomor satu di Indonesia setelah berhasil meraih gelar dokter penuh di Batavia pada akhir 1942.

Prestasi Gemilang di London dan Lahirnya 'Bapak Atom Indonesia'

Pasca-kemerdekaan, atas rekomendasi dr. Leimena dan dr. Johanes, Siwabessy terbang ke Inggris pada tahun 1949 dengan beasiswa dari British Council untuk memperdalam ilmu radioterapi dan nuklir di Universitas London. Kehebatannya langsung mengguncang kampus. Baru tiga bulan kuliah, ia diangkat menjadi asisten tepercaya yang dibebaskan dari kelas rutin, diberi wewenang memegang bangsal di Rumah Sakit Hammersmith, bahkan difasilitasi seorang sekretaris pribadi asal Inggris—sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang ilmuwan Asia kala itu.

Sepulang ke tanah air, kepakarannya langsung diuji oleh ancaman global. Pada tahun 1952, Amerika Serikat meledakkan bom hidrogen pertamanya di Samudra Pasifik. Khawatir akan dampak luruhan radioaktif ke wilayah Indonesia, Presiden Soekarno langsung menunjuk Siwabessy untuk memimpin Panitia Penyelidikan Radioaktivitas pada tahun 1954.

Langkah taktis ini berlanjut dengan pendirian Lembaga Tenaga Atom di bawah Sekretariat Negara. Tak hanya itu, demi mencetak kader ilmuwan murni, Siwabessy membidani lahirnya Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia dan menjabat sebagai Dekan pertama (1963–1965).

Puncaknya, ia ditunjuk sebagai Direktur Jenderal pertama Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) pada tahun 1962 dan diangkat menjadi Menteri Badan Tenaga Atom Nasional pada tahun 1965. Berkat dedikasinya merintis reaktor-reaktor nuklir di Indonesia, ia dianugerahi Bintang Mahaputera III pada 1976 dan dijuluki sebagai Bapak Atom Indonesia. Namanya kini diabadikan pada Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy di Serpong, Tangerang—reaktor nuklir terbesar di Asia Tenggara.

Arsitek Puskesmas, Program KB, dan Pelopor Asuransi Kesehatan (Askes)

Pada tahun 1966, estafet pengabdiannya bergeser saat Bung Karno mendapuknya menjadi Menteri Kesehatan, sebuah jabatan yang terus ia genggam hingga tahun 1978 di era Presiden Soeharto, sembari merangkap sebagai Ketua Tim Dokter Pribadi Presiden.

Terinspirasi dari sistem kesejahteraan sosial yang ia pelajari di Inggris, Siwabessy merancang cetak biru jaminan kesehatan bagi aparatur negara yang kelak menjadi cikal bakal Asuransi Kesehatan (Askes). Ia juga menjadi arsitek di balik pemerataan pelayanan kesehatan dasar melalui pendirian Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) di seluruh pelosok tanah air.

Melalui keluwesan diplomasinya di tingkat internasional, Siwabessy berhasil merangkul badan-badan PBB seperti WHO, UNICEF, UNDP, serta mempelopori kerja sama kesehatan bilateral dengan Amerika Serikat (USAID) untuk menyukseskan program Keluarga Berencana (KB) serta memberantas penyakit menular seperti malaria dan TBC. Ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Atas dedikasi emasnya di bidang kesehatan rakyat, negara menganugerahinya Bintang Mahaputera II pada tahun 1978.

Akhir Hayat Sang Begawan Kedokteran

Usai purnatugas dari kabinet, Siwabessy terus mengabdi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga ia mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang pada 11 November 1982 di Jakarta. Jenazah sang "Upuleru" dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Dua puluh tujuh tahun setelah kepergiannya, Universitas Indonesia memberikan penghormatan abadi dengan mengabadikan namanya sebagai nama jalan utama di kompleks kampus UI Depok: Jalan Prof. Dr. G.A. Siwabessy, lambang penghormatan bagi seorang begawan ilmu yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan fisik dan masa depan bangsa Indonesia. (*)

*) Source : Nasrul Koto PSU