Muhammad Alwi Dahlan Jadi Bapak Ilmu Komunikasi Indonesia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Muhammad Alwi Dahlan
Muhammad Alwi Dahlan
grosir-buah-surabaya

Panggung akademik dan politik Indonesia mencatat nama Prof. Muhammad Alwi Dahlan, M.A., Ph.D. sebagai salah satu putra terbaik bangsa dengan legasi yang tak lekang oleh waktu. Pria legendaris yang lahir pada 15 Mei 1933 di Padang, Sumatra Barat ini, bukan sekadar mantan Menteri Penerangan di era akhir pemerintahan Presiden Soeharto. 

Lebih dari itu, ia adalah begawan sejati yang menorehkan tinta emas sebagai orang Indonesia pertama yang merengkuh gelar doktor (Ph.D.) di bidang ilmu komunikasi, sekaligus arsitek intelektual di balik lahirnya generasi komunikolog di tanah air.

Darah kepenulisan dan budayawan memang mengalir deras dalam nadi Alwi Dahlan. Ia merupakan putra dari Dahlan Sjarif Datuk Djundjung—seorang bupati pada kantor Gubernur Sumatra Tengah—dan Siti Noersiah. Dari garis ibunya, Alwi adalah kemenakan langsung dari tokoh besar perfilman Indonesia, Usmar Ismail, serta tokoh pergerakan Abu Hanifah. Akar keluarga yang lekat dengan dunia literasi dan seni inilah yang kelak membentuk ketajaman berpikir dan kreativitas Alwi sejak usia belia.

Masa Muda di Ranah Minang dan Perjuangan di Negeri Paman Sam

Alwi menghabiskan masa kecil dan remajanya di ranah Minangkabau. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat (SR) Adabiah Padang, sebelum melanjutkan ke SMP dan SMA Negeri 2 Birugo Bukittinggi. Lulus dari SMA, ia merantau ke Jakarta untuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Atensi besarnya pada dunia pergerakan mahasiswa membawanya menjadi aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI).

Pada tahun 1958, sebuah undangan dari Organisasi Nasional Mahasiswa Amerika Serikat (US National Student Association) mengubah jalan hidupnya. Alwi berangkat ke AS sebelum sempat merampungkan studinya di UI. Di sanalah petualangan akademiknya yang legendaris dimulai.

Bersekolah di luar negeri pada masa itu menuntut kemandirian dan daya juang yang luar biasa. Demi menyambung hidup dan membiayai kuliahnya, Alwi tidak gengsi melakoni berbagai pekerjaan kasar, termasuk menjadi penjaga malam di gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, DC.

Perjuangan itu berbuah manis. Ia berhasil meraih gelar Bachelor of Arts (BA) dari American University pada tahun 1961. Setahun kemudian, ia merengkuh gelar Master of Arts (MA) bidang ilmu komunikasi dari Stanford University. Puncaknya pada tahun 1967, Alwi menuntaskan gelar Doctor (Ph.D.) dari University of Illinois di Urbana-Champaign, sekaligus menobatkan dirinya sebagai orang Indonesia pertama yang menyandang gelar doktor di bidang ilmu komunikasi.

Sastrawan Remaja dan Sineas Peraih Penghargaan

Jauh sebelum dikenal sebagai pejabat negara dan profesor, Alwi adalah seorang penulis yang sangat produktif. Di usia 16 tahun, karya-karyanya berupa cerita pendek sudah menghiasi mingguan nasional Mimbar Indonesia dan majalah Kisah. Saat duduk di bangku SMP, ia bahkan sudah menerbitkan koran sekolah dan menjadi koresponden majalah Siasat. Jiwa petualangnya tecermin saat ia menulis rangkaian reportase perjalanan kaki menjelajahi pedalaman Alas, Gayo, dan Aceh.

Di dunia kampus, gairah menulisnya makin menggila. Bersama para sahabatnya yang kelak menjadi tokoh bangsa—seperti Emil Salim, Teuku Jacob, Koesnadi Hardjasoemantri, dan Nugroho Notosusanto—Alwi mendirikan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada tahun 1958.

Kepiawaiannya merangkai kata juga merambah layar perak. Antara tahun 1953 hingga 1958, ia menulis sembilan skenario film legendaris, termasuk mahakarya Tiga Dara. Skenario film Harimau Tjampa yang ditulisnya berdasarkan cerita asli Usmar Ismail sukses menyabet penghargaan sebagai Skenario Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 1955.

Tak hanya itu, ia meraih penghargaan internasional di Festival Film Asia Pasifik untuk lagu pengiring film Tamu Agung yang mengadaptasi teknik randai Minang. Anak-anak generasi lawas juga pasti tak asing dengan film Jenderal Kancil yang dibintangi Ahmad Albar kecil; film tersebut diangkat dari buku cerita anak karangan Alwi berjudul Pistol si Mancil terbitan Balai Pustaka.

Dari Menara Gading UI Menuju Panggung Birokrasi dan Kabinet

Kembali ke tanah air, Alwi mendedikasikan ilmu komunikasinya untuk memajukan bangsa. Pada 5 Juli 1997, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia.

Di ranah pemerintahan, kepakaran Alwi sangat diandalkan. Ia dipercaya menjabat sebagai Asisten Menteri Negara bidang Keserasian Kependudukan dan Lingkungan, serta Bidang Kependudukan di Kementerian Lingkungan Hidup selama hampir 14 tahun (1979–1993). Setelah itu, Muhammad Alwi Dahlan ditunjuk memimpin Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) sebagai Kepala dari tahun 1993 hingga 1998.

Puncak karier politiknya tercapai pada Maret 1998, ketika Presiden Soeharto menunjuknya sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet Pembangunan VII. Meski masa jabatannya terhitung singkat seiring dengan bergulirnya gerbong Reformasi pada 21 Mei 1998, kehadiran Alwi di kabinet dinilai sebagai representasi teknokrat yang profesional dan berintegritas.

Prof. Alwi Dahlan menghembuskan napas terakhirnya pada 20 Maret 2024 dalam usia 90 tahun. Ia pergi dengan meninggalkan legasi raksasa. Dari seorang anak muda Minang yang menjadi penjaga malam di KBRI, ia bertransformasi menjadi peletak dasar ilmu komunikasi modern di Indonesia, seorang sastrawan, sekaligus negarawan yang namanya akan selalu harum dalam sejarah bangsa. (*)