Sejarah Gereja Ortodoks Memisahkan Diri dari Gereja Katolik

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik
Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik
grosir-buah-surabaya

Selama seribu tahun pertama Kekristenan, Timur dan Barat membentuk satu Gereja—bersatu dalam iman, sakramen, konsili, dan kepemimpinan penerus Santo Petrus. Kedua paru-paru Kekristenan itu bernafas bersama: Timur dan Barat. Namun jauh di bawah permukaan, ketegangan perlahan membesar: persaingan politik, perbedaan budaya, perdebatan doktrinal, dan campur tangan kekaisaran.

Kisah bagaimana Gereja Ortodoks memisahkan diri dari Gereja Katolik bukanlah satu peristiwa tunggal, melainkan proses panjang yang menyakitkan.

Retak pertama : Photius dan Keterjagan “Roma Baru”

Pada tahun 858, Kaisar Bizantium Michael III menyingkirkan Patriark Ignatius dari Konstantinopel dan menggantikannya dengan Photius—seorang cendekiawan brilian, namun saat itu hanya seorang awam. Dalam enam hari saja, Photius “dilajukan” melalui seluruh tahapan tahbisan dan langsung diangkat menjadi patriark—sebuah tindakan yang didorong oleh kepentingan politik kekaisaran, bukan oleh Gereja.

Ketika Paus Nikolas I menyelidiki, ia menolak mengakui Photius. Konstantinopel membalas dengan sikap menantang.

Photius menuduh Gereja Katolik melakukan “kesalahan” dan mulai menyatakan bahwa Konstantinopel—“Roma Baru”—seharusnya menyaingi Roma Lama dalam otoritas. Inilah kelahiran ide berbahaya: Gereja yang tunduk kepada politik kekaisaran, bukan kepada suksesi apostolik Petrus.

Pemberontakan politis ini membuka luka besar pertama.

Pada abad ke-11 : Retak itu menganda

1. Doktrun yang pada tegang

Perbedaan tentang :

A. Primasi Paus

B. Filioque (prosesi Roh Kudus)

C. Disiplin dan variasi liturgi

Timur menolak otoritas universal Paus dan lebih memilih federasi longgar gereja-gereja mandiri—sesuatu yang asing dari struktur yang didirikan Kristus ketika Ia menyerahkan kunci-kunci Kerajaan Surga kepada Petrus (Matius 16:18–19).

2. Perbedaan budaya / Bahasa

Latin vs Yunani

Sistem hukum-politik Romawi vs. Bizantium

Gaya teologi Barat vs. mistisisme Timur

Gereja bukan hanya berbeda gagasan, tetapi identitas.

3. Tekanan politik Kekaisaran

Gereja Timur berada di bawah kekuasaan kaisar yang sering mengatur para uskup, mencopot patriark, bahkan memengaruhi doktrin.

“Caesaropapisme” ini membuat Timur makin menjauh dari Roma dan makin bergantung pada politik kerajaan.

Patriarkate Timur Hancur – Roma Sajati Berdiri tanpa terjamah

Ketika Islam menyebar, pusat-pusat Kristen kuno ditaklukkan:

Alexandria jatuh (641)

Antiokhia jatuh (638)

Yerusalem jatuh (637)

Patriarkat yang dahulu kuat kini lenyap. Konstantinopel menjadi terpencil, haus akan otoritas, dan terdorong untuk meninggikan dirinya di atas Roma. Ironisnya—bahkan Konstantinopel kemudian runtuh ketika Turki Utsmani menaklukkannya pada 1453, menandai berakhirnya Kekaisaran Bizantium.

Hanya Roma yang tetap berdiri tanpa pernah ditaklukkan oleh Islam, mempertahankan pemerintahan apostolik secara terus-menerus dan independen.

Communio tanpa Kesatuan : fragmentasi ortodoks modern

cctv-mojokerto-liem

Banyak yang mengira “Gereja Ortodoks” adalah satu tubuh yang bersatu. Faktanya, itu adalah mosaik gereja nasional yang independen dan sering tidak bersekutu satu sama lain.

Contoh Terbaru Perpecahan Ortodoks :

1. Rusia vs Konstantinopel (2018–sekarang)

Gereja Rusia memutuskan persekutuan karena pengakuan atas Gereja Ortodoks Ukraina.

2. Antiokhia vs Yerusalem

Terpecah bertahun-tahun karena sengketa wilayah di Qatar.

3. Bulgaria vs Konstantinopel (1990-an)

Dua tahun tidak bersekutu.

4. Serbia vs Makedonia Utara (2020–2022)

Perpecahan puluhan tahun akibat deklarasi independensi.

5. Yunani vs Rusia

Beberapa wilayah menolak konselebrasi karena ketegangan politik dan yurisdiksi. Semua ini menunjukkan pola yang sama: Tanpa gembala universal, kesatuan runtuh.

Kristus berdoa “supaya mereka menjadi satu” (Yohanes 17:21), namun struktur Ortodoks tidak mampu menjamin kesatuan itu. Bahkan kanon Alkitab mereka berbeda. Gereja-gereja Ortodoks tidak sepakat pada satu kanon Alkitab.

Ada yang memakai 76 buku, 77, 78, bahkan 81—berbeda-beda menurut yurisdiksi. Ini sangat kontras dengan Gereja Katolik yang memiliki kanon universal yang didefinisikan sejak Konsili Roma (382), Hippo (393), dan Kartago (397).

Kesatuan dalam Kitab Suci mencerminkan kesatuan dalam otoritas—dan dunia Ortodoks tidak memiliki keduanya.

Gereja Katolik masih membuka pintu bagi Timur

Meski ada perbedaan dan luka sejarah, Gereja Katolik tidak membalas dengan permusuhan. Ia tetap membuka tangan bagi saudara-saudara yang terpisah. Banyak yang sudah kembali.

Inilah Gereja-Gereja Katolik Timur—komunitas yang dahulu Ortodoks, tetapi memulihkan persekutuan penuh dengan Roma. Mereka mempertahankan :

Liturgi

Busana rohani

Spiritualitas

Tradisi

Dengan satu perubahan—bersatu kembali dengan penerus Petrus.

Keberadaan mereka menjadi bukti hidup bahwa persatuan itu mungkin.

Harapan bagi Saudara yang lama terpisah

Gereja Katolik berdoa dengan sungguh agar suatu hari dunia Ortodoks—saudara kita yang telah lama terpisah—kembali ke rumah. Kita menantikan hari ketika Timur dan Barat kembali bernafas bersama dalam harmoni, bersatu di bawah satu Gembala yang ditetapkan Kristus sendiri.

Luka sejarah memang dalam, namun kasih Kristus jauh lebih dalam. Semoga Roh Kudus menuntun kita pada pemulihan satu Gereja Katolik yang utuh— satu kawanan, satu iman, satu keluarga dalam Kristus. (*)