Profil Lora Muhammad Ismail Al Ascholy
Lora Muhammad Ismail Al Ascholy dikenal sebagai santri kelana yang menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain, bahkan lintas daerah hingga ke luar negeri, mulai dari Madura, Jawa, hingga Yaman. Ia merupakan putra pasangan KH Mas Ali Ridho Hasyim dan Nyai Hj. Muthmainnah Aschal, serta memiliki garis keturunan dari KH Hasyim Abdul Ghafur, Gerongan, Pasuruan.
Lahir pada 10 Juli 1995, ia juga tercatat sebagai keturunan keenam dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
Pendidikan awalnya ditempuh di lingkungan sendiri, yakni di Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Kelurahan Demangan, Kecamatan Bangkalan. Pada tahun 2005, ia melanjutkan ke Pondok Pesantren As-Sadad Ambunten, Sumenep.
Di usia sepuluh tahun, ia mulai mengaji kitab Aqidatul Awam dan Safinatun Najah kepada KH Thoifur Ali Wafa. Pengalaman mengaji selama satu bulan di bulan Ramadan bersama pamannya itu menjadi titik awal keseriusannya dalam menuntut ilmu, setelah sebelumnya ia mengaku kurang bersungguh-sungguh karena belajar di lingkungan rumah sendiri.
Perjalanan nyantrinya berlanjut ke berbagai pesantren. Selama sekitar sembilan tahun, ia menimba ilmu di enam pesantren berbeda. Setelah mempelajari tauhid dan fikih, ia mendalami ilmu nahwu dan sharaf, termasuk metode cepat membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati, Jepara, pada 2007 selama sembilan bulan.
Selanjutnya, ia mondok di Pondok Pesantren Al-Islah Lasem, Rembang, selama tujuh tahun, dengan fokus pada pendalaman ilmu salaf secara menyeluruh.
Pada tahun 2011, ia melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Yaman, tepatnya di Pesantren Darul Musthafa, Tarim, Hadramaut, di bawah asuhan Habib Umar bin Hafidz selama satu bulan. Kemampuan menulisnya mulai berkembang saat ia menyantri di Pesantren Masyhad Annur, Sukabumi, sebagai persiapan untuk kembali belajar di Yaman. Pada tahun 2015, ia kembali ke Tarim dan menimba ilmu di Rubath Tarim untuk mendalami fikih, meski hanya berlangsung dua bulan karena kondisi konflik yang memaksanya pulang ke Indonesia.
Sekembalinya dari Yaman, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, yang didirikan oleh KH Maimoen Zubair. Di sana, ia fokus mendalami tafsir Al-Qur’an dan berhasil menyusun kitab Safinah Kalla Saya’lamun fi Tafsiri Syaikhina Maimun, sebuah kumpulan tafsir dari gurunya yang hingga kini masih terus dilanjutkan penulisannya.
Minat menulisnya sudah tumbuh sejak usia muda. Pada usia 14 tahun, ia telah menulis kitab pertamanya, Durrun Ghali Nadzom Jurumiyah (2009), saat mondok di Al-Islah Lasem. Motivasi besarnya datang dari gurunya, KH Hakim Masduqi, yang sejak kecil telah menunjukkan keistimewaan dalam mengajar dan menulis kitab. Sejak saat itu, ia semakin giat menulis hingga dikenal sebagai santri muda yang mampu menghasilkan belasan kitab sebelum usia 20 tahun.
Hingga kini, puluhan kitab telah lahir dari tangannya. Di usia remaja saja, ia telah menulis sekitar 15 kitab. Beberapa pengalaman menulis yang paling berkesan baginya antara lain saat menulis kitab di usia belasan tahun, menyusun kitab An-Naghom li Dzawil Gham yang membahas tema kegelisahan, serta menggarap kitab tafsir karya gurunya.
Saat ini, ia terus melanjutkan penulisan tafsir tersebut dari Surah Al-Baqarah hingga Al-Ikhlas yang diperkirakan mencapai 13–14 jilid. Ia berkomitmen menyelesaikan karya tersebut sebagai bagian dari pengabdian dakwah dan penghormatan kepada gurunya. Baginya, santri tidak hanya menulis tentang ilmunya sendiri, tetapi juga mengabadikan ilmu para guru. Prinsip itulah yang hingga kini terus ia pegang dalam perjalanan hidup dan keilmuannya. (*)
Editor : S. Anwar