Kematian Demang Lehman di Ujung Tiang Gantungan

avatar Arif yulianto
  • URL berhasil dicopy
Gusti Buyut Hasan atau Demang Lehman
Gusti Buyut Hasan atau Demang Lehman
grosir-buah-surabaya

Pagi itu, 27 Februari 1864, Lapangan Martapura, Kota Banjarmasin, dipenuhi oleh ketegangan yang mencekam. Di tengah lapangan, sebuah panggung tiang gantungan telah berdiri kokoh, disiapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mengakhiri hidup salah satu pejuang paling ditakuti dalam Perang Banjar : Gusti Buyut Hasan, yang lebih dikenal sebagai Demang Lehman. 

Setelah dikhianati dan ditangkap saat sedang beribadah di Gua Regat, sang panglima berkulit legam ini menghadapi hukumannya dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya; matanya justru memancarkan keteguhan iman dan keberanian seorang kesatria yang menolak tunduk pada penjajah. 

Sebelum tali algojo menjerat lehernya, ia dengan lantang mengucapkan dua kalimat syahadat dan berseru bahwa setiap tetes darahnya saksi atas perjuangan membela bumi Banjar.

​Tubuh perkasa itu akhirnya terkulai di ujung tali, namun kekejaman kolonial tidak berhenti sampai di situ. Demi memastikan kematiannya sekaligus meredam semangat perlawanan rakyat Banjar yang masih membara, pihak Belanda melakukan tindakan yang sangat keji: kepala Demang Lehman dipancung dan dipisahkan dari tubuhnya. 

Potongan kepala sang panglima kemudian dimasukkan ke dalam sebuah wadah khusus berisi cairan pengawet, siap untuk dibawa menyeberangi lautan menuju negeri Belanda. Bagi pihak kolonial, kepala tersebut adalah piala kemenangan, bukti penaklukan, dan objek studi kraniologi untuk diperiksa di Universitas Leiden. Namun bagi rakyat Banjar, tindakan barbar tersebut justru mengabadikan sosok Demang Lehman sebagai martir sejati yang raganya dihancurkan, tetapi semangat perlawanannya tidak akan pernah bisa dipenjara.

​Hingga bertahun-tahun kemudian, kisah terpisahnya kepala dan tubuh Demang Lehman menjadi luka sejarah yang mendalam sekaligus simbol perlawanan yang tak kenal padam. Sementara jasadnya tanpa kepala dimakamkan di tanah Martapura, tengkoraknya tersimpan ribuan mil jauhnya di dalam kegelapan museum Belanda. 

Tragedi memilukan ini tidak membuat nama Demang Lehman terlupakan; sebaliknya, kisah tragis dipancung dan dilarungnya kepala sang demang ke negeri seberang justru mengunci posisinya di dalam lembaran sejarah sebagai salah satu panglima paling berani, yang kepalanya bahkan masih ditakuti musuh meski napasnya telah tiada. (*)

*) Source : Sejarah Cirebon