Letkol Maladi Jusuf dan Residu Kiri dalam Tubuh Angkatan Darat
Sejarah militer Indonesia pada masa revolusi adalah panggung yang sarat dengan kompleksitas dan friksi ideologis. Kita tidak bisa melihat sejarah Angkatan Darat secara hitam-putih.
Salah satu figur yang kerap terlupakan, namun meninggalkan jejak berdarah pada masa itu adalah Maladi Jusuf.
Pada peristiwa Madiun tahun 1948, saat masih berpangkat Mayor, Maladi Jusuf tercatat mengomandani sebuah batalyon di bawah Brigade 29 pimpinan Letkol Dachlan. Batalyon ini bukanlah pasukan sembarangan. Sebagian besar anggotanya adalah Laskar Pesindo yang kemudian berevolusi menjadi kekuatan bersenjata paling elite dan memiliki persenjataan paling lengkap di kubu FDR (Front Demokrasi Rakyat)/PKI (Partai Komunis Indonesia).
Merekalah lawan yang paling tangguh yang harus dihadapi oleh pasukan Divisi Siliwangi yang hijrah ke Jawa Tengah. Fakta sejarah mencatat, di tangan pasukan inilah, mantan Gubernur Jawa Timur, Soerjo, dan dua pejabat Republik dieksekusi secara keji tatkala berpapasan di jalur pelarian.
Pragmatisme Militer : Amnesti di Tengah Agresi
Namun, sejarah politik tentara kita seringkali menyajikan ironi. Ketika Agresi Militer Belanda II meletus pada akhir tahun 1948, dinamika politik-militer berubah drastis. Kebutuhan mendesak untuk mempertahankan eksistensi Republik memaksa pimpinan tentara membuat keputusan yang sangat pragmatis.
Dalam penelusuran arsip-arsip militer Belanda, sejarawan Salim Said pernah menemukan sebuah dokumen yang sangat menarik : ada instruksi langsung dari Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk mengerahkan seluruh kekuatan bersenjata untuk bergerilya melawan Belanda. Instruksi ini tidak pandang bulu, termasuk merangkul kembali sisa-sisa pasukan eks-PKI Madiun, tak terkecuali Maladi Jusuf dan batalyonnya. Mereka mendapat pengampunan demi satu tujuan: kelangsungan hidup Republik di hadapan Belanda.
Karier yang Terus Berlanjut di Era Orde Lama
Lantas, bagaimana nasib Maladi Jusuf pasca-revolusi fisik? Namanya sempat tenggelam, hanya terekam sayup-sayup saat ditugaskan dalam operasi penumpasan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), Kahar Muzakar di Sulawesi.
Sangat menarik ketika sebuah dokumen visual—sebuah foto dalam Majalah Djuru Penerang edisi Februari-Maret 1957 koleksi Jani Sari Library—kembali memunculkan sosoknya ke permukaan. Dalam dokumentasi tersebut, Maladi Jusuf tampak sedang memberikan ceramah di Sulawesi. Ia telah menyandang pangkat Letnan Kolonel.
Posisinya pun sangat strategis : Inspektur Teritorial dan Perlawanan Rakyat (ITPR) Tentara & Teritorium (T.T.) VII/Wirabuana. Harus diingat, pada tahun 1957, pangkat Letnan Kolonel sangatlah tinggi dan berwibawa, mengingat Panglima T.T. Wirabuana pada saat itu, Letkol Ventje Sumual, memiliki pangkat yang sama. Ini membuktikan bahwa alih-alih disingkirkan, karier militernya justru berlanjut dan mapan di era Orde Lama.
Akar Friksi : Laskar Kiri dalam Tubuh Tentara
Keberadaan Maladi Jusuf di pucuk pimpinan teritorial ini mengonfirmasi sebuah realitas pahit dalam sejarah pertumbuhan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat atau TNI-AD. Institusi ini, pada awal pembentukannya, adalah wadah yang mempersatukan berbagai unsur laskar dan badan perjuangan bersenjata yang lahir dari rahim masyarakat dengan latar belakang ideologi yang saling bertabrakan.
Sebuah buletin resmi terbitan Mabes TNI-AD tahun 1973, dalam bab bertajuk
"Keanggotaan Bekas PKI dalam TNI-AD", secara terbuka mengakui realitas historis ini :
"Sejarah pertumbuhan TNI-AD telah mempersatukan unsur-unsur perjuangan bersenjata yang berasal dari berbagai sumber... Ini termasuk juga unsur yang bersumber dari ideologi komunis seperti Laskar Minyak, Laskar Merah, Tentara K.S., Pesindo...."
Berdasarkan dokumen tersebut, presensi eks-PKI dalam TNI-AD di masa Orde Lama terjadi melalui tiga pintu masuk :
1. Peleburan (rasionalisasi) badan-badan perjuangan bersenjata di masa revolusi.
2. Rekrutmen pasca-1950 melalui pendidikan DODIK, yang menyerap anggota partai atau ormas eks-PKI.
3. Penyusupan ideologis di mana prajurit digarap menjadi simpatisan oleh Biro Chusus PKI.
Residu ideologis ini terus membayangi Angkatan Darat. Seperti yang pernah ditegaskan dalam buku Salim Said Gestapu 65 (halaman 173):
"Menarik untuk diketahui, Batalyon 454 pernah dipimpin oleh Letkol Untung dan para prajuritnya sebagian besar berasal dari laskar kiri di masa Revolusi."
Akhir Perjalanan
Pada akhirnya, sejarah militer selalu memiliki cara untuk melakukan purifikasi atas residu masa lalunya. Pasca-tragedi berdarah Gerakan 30 September 1965, pembersihan besar-besaran dilakukan di tubuh Angkatan Darat. Maladi Jusuf, sang perwira eks-Madiun yang sempat menikmati karir panjang di Orde Lama, tak luput dari operasi aparat. Ia diciduk, dan sejak saat itu, jejaknya lenyap ditelan panggung sejarah. (*)
*) Source : Jani Sari Library
Editor : Bambang Harianto