Tirto Adhi Soerjo Gunakan Pers dan LSM untuk Lawah Penjajah
Bapak pers, Tirto Adhi Soerjo, justru menggunakan jurnalisme dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai senjata utama untuk memerdekakan bangsa dari penjajah.
Pada masa Hindia Belanda, Tirto Adhi Soerjo bergerak sebagai melalui tiga strategi utama :
Tirto Adhi Soerjo menolak pers yang pasif. Baginya, pers bertugas menyuarakan kaum yang tidak bisa bersuara (the voiceless). la turun langsung menginvestigasi kasus pemerasan petani, penyalahgunaan kekuasaan oleh bupati, hingga pemecatan sewenang-wenang.
Tirto Adhi Soerjo mendirikan perusahaan pers berbadan hukum pertama milik pribumi, yaitu NV Medan Prijaji. Melalui perusahaan ini, ia mengajari bangsa Indonesia cara mengelola saham, bisnis, dan koperasi tanpa bergantung pada kapitalis kolonial atau asing.
Kesadaran jurnalistiknya melahirkan gerakan politik terorganisasi.
Tirto Adhi Soerjo membidani lahirnya Sarekat Prijaji (1906) dan Sarekat Dagang Islamiah (1909). Kiprahnya menjadi bukti bahwa pers bumiputera sejak lahirnya bertindak sebagai institusi perlawanan, bukan sekadar industri bisnis berita. Namun, sejarah sering kali kejam. Sebagaimana dicatat dalam pelacakan historis.
Tirto Adhi Soerjo, bapak dari bapak bangsa Indonesia, sang dinamo pergerakan nasional, perintis penyadaran bangsa. Ironisnya, itu hanya lamat-lamat terdengar. Dan sejauh ini, Pramoedya Ananta Toer adalah satu-satunya orang yang dengan serius mengulas sosok seorang Tirto Adhi Soerjo.
Melalui surat kabar Medan Prijaji (1907) dan jurnal hukum Soeloeh Keadilan, Tirto Adhi mengobarkan jurnalisme advokasi yang memihak kaum "bangsa jang terprentah". Pers di tangannya berubah menjadi ruang pengaduan dan badan bantuan hukum gratis bagi rakyat kecil yang tertindas.
Tirto Adhi turun langsung menginvestigasi skandal penggusuran lahan petani demi perkebunan tebu kapitalis, hingga membongkar kesewenang-wenangan Wedana Tamboen dan Bupati Rembang.
Dampak dari gerakan jurnalistiknya tidak berhenti di situ saja, tapi juga mewujud dalam gerakan politik terorganisasi.
Pada tahun 1909 di Batavia, Tirto Adhi mendirikan Sarekat Dagang Islamiah (SDI-ah) sebagai wadah perjuangan ekonomi kaum bumiputera melawan monopoli dagang asing. Jaringan organisasi ini menyebar luas hingga ke Surakarta, di mana Tirto Adhi membimbing Haji Samanhoedi untuk mendirikan SDI Solo pada tahun 1911.
"Nama asli Minke adalah Tirto Adhi Soerjo, bapak dari bapak bangsa Indonesia, sang dinamo pergerakan nasional, perintis penyadaran bangsa agar bergegas bangun dari tidur untuk segera menanggalkan nasib sebagai bangsa yang terperintah,” kata Muhidin M Dahlan, penulis asal Yogyakarta. (*)
Editor : S. Anwar