Lapidoth, Hotel Pertama yang Berdiri di Malang

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Lapidoth
Lapidoth
grosir-buah-surabaya

Menyusuri sudut barat daya Alun-Alun Kota Malang di Jalan Regenstraat—yang kini menjadi jantung keramaian kota—langkah kaki seolah ditarik mundur melintasi lorong waktu. Di sudut inilah berdiri sebuah bangunan legendaris yang kini dikenal sebagai Hotel Pelangi, penginapan tertua yang menjadi saksi bisu pasang surut sejarah Kota Malang. Jauh sebelum megah seperti sekarang, keberadaan hotel ini berakar dari pesatnya industri perkebunan kopi pada abad ke-19.

​Pada kurun 1880-an, wilayah Malang bertransformasi menjadi salah satu produsen kopi terbesar di Jawa Timur. Geliat ekonomi yang tinggi serta arus pelancong dari Pasuruan mendorong seorang pengusaha Belanda bernama Abraham Chr. Lapidoth untuk mendirikan tempat penginapan. Memadukan arsitektur landhuizen khas Belanda, teras Joglo Jawa, dan sentuhan Empire Style, berdirilah Hotel Lapidoth dengan 50 kamar di tengah rindangnya pepohonan dan jalanan tanah keras. Tempat ini pun dengan cepat menjadi jujugan favorit para pekerja perkebunan dan pendatang.

​Seiring bergantinya era, wajah dan nama hotel ini terus bersolek. Pada tahun 1870, bangunan ini berganti nama menjadi Hotel Malang. Memasuki tahun 1900, penginapan ini diakuisisi dan berganti nama menjadi Hotel Jensen. Perubahan paling masif terjadi pada tahun 1915 saat biro arsitek Algemeen Ingenieur Architecten (AIA) melakukan renovasi besar-besaran. 

Gaya bangunannya diubah menjadi Art Deco yang anggun dengan ciri khas menara kembar serta kapasitas yang melonjak menjadi 126 kamar, hingga resmi menyandang nama Hotel Palace.

​Derap sejarah tak berhenti di situ. Ketika Jepang menduduki Malang pada tahun 1942, hotel ini disita dan diubah namanya menjadi Hotel Assoma. Pasca-kemerdekaan, tempat ini sempat dinamai Hotel Republik karena kerap dijadikan markas rahasia para pejuang kemerdekaan untuk mengatur strategi perang. 

Puncak ketegangan terjadi saat Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947. Tak rela markas dan fasilitas kota dimanfaatkan oleh pasukan NICA, para pejuang melancarkan aksi Malang Bumi Hangus. Hotel Palace ikut terbakar hebat hingga merusakkan menara kembarnya.

​Babak baru kehidupan hotel ini dimulai pada tahun 1953 saat pengusaha asal Kalimantan, H. Sjachran Hoesin, membeli bangunan bersejarah tersebut. Nama Hotel Pelangi kemudian resmi disematkan pada tahun 1964. Meski menara kembarnya tak lagi berdiri akibat renovasi pemulihan, nilai historisnya tetap terjaga hingga akhirnya pemerintah menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya pada akhir tahun 2018. Kini, dinding-dinding Hotel Pelangi tak sekadar menawarkan tempat beristirahat, tetapi juga merawat memori kolektif perjuangan rakyat Malang.

Kini nama Lapidoth kembali muncul di Hotel Pelangi. Menjadi sebuah cafe yang berdiri gagah di bagian depan hotel. Membangun memori tentang sejarah panjangnya. (*)

*) Source : Hino Kertapati