Kisah Ukhasyah Memeluk Rasullallah
Beberapa waktu setelah momen diturunkannya Surah An Nashr, Rasulullah memerintahkan Bilal untuk memanggil para sahabat berkumpul di Masjid Nabawi. Tak lama kemudian, Masjid langsung dikerumuni, dan Rasulullah naik ke atas mimbar dan berkata :
“Wahai manusia, Nabi macam apa aku ini bagi kalian?” tanya Rasulullah.
Para sahabat menjawab :
“Semoga Allah memberikan balasan kebaikan sebab kenabianmu. Engkau bagi kami bagaikan ayah yang penyayang, saudara yang bijak dan baik hati. Engkau telah menyampaikan risalah Allah dan engkau telah mengajak ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan dengan tutur kata yang santun. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang lebih besar dari balasan yang diterima oleh nabi lainnya.”
Setelah itu, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam berkata :
“Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barangsiapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu”
Tak ada seorang pun yang berdiri. Rasulullah kemudian mengulangi ucapannya lagi, sampai dua kali, lalu tidak ada seorang pun yang berdiri.
Setelah pengulangan kalimat yang ketiga, tiba-tiba ada seseorang berdiri. Orang itu berjalan melewati para jamaah hingga sampai di depan Rasulullah. Orang itu adalah Ukasyah bin Mihshan.
Ukasyah berkata, “Demi ayah dan ibuku. Andai engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Kudaku dan kudamu berjalan sejajar. Aku mendekatimu, namun tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Entah tidak sengaja, atau engkau memang ingin memecutku”.
Rasulullah menjawab :
“Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja.”
Selepas itu, Rasulullah menyuruh Bilal untuk pergi ke rumah Fathimah, dan ambilkan pecut yang tergantung di rumahnya.
Bilal bergegas mengambil pecut itu dan menyerahkannya kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian menyerahkan pecutnya kepada Ukasyah dan menyuruhnya untuk membalas perbuatan serupa kepada Rasulullah.
Sontak Abu Bakar, Umar, Ali, Hasan, dan Husein berdiri bergantian. Hendak menghadang Ukasyah, dan menawarkan bahwa mereka sajalah yang dipecut.
Rasulullah berkata pada mereka semua untuk diam dan kembali ke tempatnya masing-masing. Sesungguhnya Allah tahu derajat dan niat baik Abu Bakar, Umar, Ali, Hasan, dan Husein.
Rasul kemudian menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka. Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu. Beberapa ada yang menangis menjadi-jadi. Mereka menegur Ukasyah,
“Apakah engkau betul-betul akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah? beliau sedang sakit”.
Ukasyah langsung menghampiri Rasulullah. Namun alih-alih memecut, Ukasyah memanfaatkan momen itu untuk memeluk Sang Nabi utusan Allah yang sedang sakit itu.
“Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan kepadamu, wahai Rasulullah” ujar Ukasyah.
Rasulullah bertanya :
“Lantas katakanlah, kau ingin membalas atau memaafkan aku?”
Ukasyah menjawab :
“Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari kiamat”.
Mendengar kata tersebut, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam berkata :
“Siapa yang ingin melihat temanku di surga nanti, lihatlah orang ini”.
Seketika, kaum Muslimin langsung berdiri mengerubungi Ukasyah. dan berpelukan satu sama lain. (*)
Editor : Bambang Harianto