Mbah Malik, Waliyullah yang Tenggelam dalam Dzikir Selama 3 Tahun

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Mbah Malik dan santrinya
Mbah Malik dan santrinya
grosir-buah-surabaya

Syeikh Al-‘Arif Billah Abdul Malik bin Ilyas, atau yang lebih dikenal luas dengan panggilan Mbah Malik dari Kabupaten Purwokerto, adalah sosok ulama agung yang ilmunya sangat mendalam dan luas. Beliau bukan hanya seorang hafidz yang hafal seluruh isi Al-Qur’an, melainkan juga ahli besar dalam ilmu Fiqih dan Tafsir. 

Lebih dari itu, Mbah Malik dikenal sebagai pembimbing rohani (Mursyid) yang mengembangkan dua tarekat besar: Naqsabandiyah Khalidiyah dan Syadziliyah.

Setiap hari, sebelum masuk waktu shalat Dzuhur, ada kebiasaan mulia yang senantiasa beliau jalani. Beliau mengawali dengan shalat sunnah Qabliyah, lalu duduk bersama para jamaah untuk melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Majelis indah ini berlangsung dari pukul 12.00 siang hingga tepat pukul 13.30 WIB.

Suara lantunan “Shallallahu ‘ala Muhammad…” selalu memenuhi ruangan, dan tepat pukul 13.30, suara iqamat pun berkumandang — sudah menjadi kebiasaan dan tanda bahwa waktu shalat telah tiba.

Namun, pada satu hari yang menjadi sejarah keajaiban kewalian itu, meski iqamat sudah berkumandang nyaring, Mbah Malik tetap duduk diam, tenang, dan hening di tempatnya. Syeikh Al-‘Arif Billah Abdul Malik sama sekali tidak beranjak. Yang bergerak hanya jari-jari tangan yang terus memutar manik-manik tasbih tanpa henti, seolah gerakan itu takkan pernah berakhir. 

Para jamaah menunggu dengan penuh rasa hormat cukup lama, namun beliau tetap diam. Padahal, waktu Dzuhur semakin sempit dan hampir habis. Akhirnya, demi tidak melewatkan kewajiban shalat berjamaah, para jamaah pun melaksanakan shalat yang dipimpin oleh Kiai Isa, adik ipar Mbah Malik.

Siang berganti malam, malam berganti hari, namun Mbah Malik masih tetap dalam posisi duduk yang sama. Kondisi fisik beliau terlihat sangat prima, tenang, damai, dan tidak ada tanda-tanda sakit atau kejanggalan sedikit pun. Keadaan ini terus berlanjut, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga akhirnya bertahun-tahun lamanya berlalu. 

Tidak ada seorang pun yang berani mengganggu atau membangunkan beliau, karena mereka paham betul: ini adalah kondisi istimewa seorang waliyullah yang sedang tenggelam sepenuhnya dalam cinta dan ingatan kepada Allah SWT. Satu hal yang makin terlihat jelas seiring berjalannya waktu: wajah Mbah Malik justru semakin bersinar terang, memancarkan cahaya keagungan yang indah dan menyejukkan hati siapa saja yang memandangnya.

Tepat tiga tahun kemudian, pada jam yang sama persis — pukul 13.30 WIB — Mbah Malik tiba-tiba menggerakkan tubuhnya, membuka mata, dan berseru lirih namun tegas, “Qamat… Qamat…”

Segera semua orang yang ada di sana berdiri bersiap, dan kali ini Mbah Malik lah yang berdiri di barisan paling depan sebagai imam shalat.

Hal yang membuat seluruh jamaah terpukau dan takjub luar biasa adalah gerakan shalat beliau. Sangat sempurna, lurus, penuh kekuatan, dan berwibawa — persis seperti kebiasaan beliau di masa lalu. 

Tidak terlihat sedikit pun rasa lemah, letih, atau limbung, padahal selama tiga tahun lamanya beliau berada dalam keadaan itu tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. Inilah wujud nyata dari Maqam Fana’, tingkatan tertinggi penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, di mana hukum alam dan keterbatasan fisik tidak lagi menjadi penghalang.

Usai shalat selesai, Mbah Malik menoleh ke arah para santri dan bertanya dengan nada santai seolah baru saja berpisah sebentar saja,

“Lha, si anu di mana? Si fulan ke mana ya?” 

Syeikh Al-‘Arif Billah Abdul Malik menyebut nama-nama sahabat dan jamaah yang biasa mendampingi beliau bershalawat.

Para santri menjawab dengan hati-hati dan penuh kelembutan,

“Mohon maaf Kiai… mereka semua sudah meninggal dunia.”

Mbah Malik tampak sangat terkejut dan bingung,

“Lho? Padahal tadi sebentar yang lalu mereka masih ada di sini, ikut selawatan bersamaku… kok bisa hilang semua?”

Barulah saat itu beliau menyadari kenyataan yang menakjubkan: waktu yang berlalu bukanlah sekejap mata, melainkan sudah tiga tahun lamanya Syeikh Al-‘Arif Billah Abdul Malik hanyut dalam samudra dzikir dan cinta Ilahi. Bagi beliau, masa tiga tahun yang panjang itu terasa hanya sekejap mata saja.

Al-Fatihah...