Bustanil Arifin Bawa Indonesia Swasembada Pangan
Pada era 1980-an, Indonesia pernah mengukir sejarah emas di sektor pangan. Negara kita yang awalnya importir beras terbesar di dunia, berhasil membalikkan keadaan menjadi negara yang mandiri dan mampu berswasembada.
Di balik tonggak sejarah besar tersebut, ada andil raksasa dari seorang jenderal legendaris kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat. Nama beliau adalah Letnan Jenderal TNI (Purn.) Bustanil Arifin, S.H.
Dari Medan Area hingga Jenderal Kepercayaan Orde Baru
Lahir pada 10 Oktober 1925, Bustanil merupakan putra dari pasangan Raden Mas Ahmad (seorang bangsawan Jawa yang menjadi teknisi kereta api di Padang Panjang) dan Aminah (perempuan Minangkabau). Masa remajanya diwarnai dinamika berpindah kota mulai dari Aceh, Padang Panjang, hingga Medan.
Saat fajar kemerdekaan menyingsing, jiwa militernya bergejolak. Bustanil bergabung dengan pasukan pertahanan Republik Indonesia (RI) dan dipercaya menjadi Komandan Kompi III Batalyon III IRMA. Ia terjun langsung ke pertempuran sengit Medan Area untuk menghadang tentara Sekutu di Pelabuhan Belawan.
Karier militernya yang cemerlang pasca-revolusi membawa Bustanil ke lingkaran kepercayaan Presiden Soeharto. Di era Orde Baru, ia ditunjuk menakhodai Badan Urusan Logistik (Bulog).
Membawa Indonesia Mengguncang Dunia Lewat Pangan
Di bawah tangan dingin Bustanil Arifin, Bulog disulap menjadi lembaga pangan yang sangat solid. Kepemimpinannya berhasil menjaga stabilitas harga dan mengamankan pasokan pangan nasional dari hulu ke hilir.
Puncaknya terjadi pada kurun waktu 1984–1985. Kerja kerasnya berbuah manis saat Indonesia resmi mencapai Swasembada Pangan. Prestasi fenomenal ini membuat dunia berdecak kagum, hingga organisasi pangan dunia bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Food and Agricultur Organization (FAO), menganugerahkan penghargaan khusus bagi Indonesia pada November 1985. Kesuksesan ini pula yang mengantarkannya dipercaya menjabat sebagai Menteri Koperasi selama tiga periode kabinet.
Cinta Mati pada Kebudayaan Ranah Minang
Meski sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk kedinasan nasional di ibu kota, Bustanil Arifin tidak pernah melupakan akar budayanya.
Kecintaannya pada Sumatra Barat dibuktikan lewat karya nyata yang abadi hingga kini. Bersama sang istri, R.A. Suhardani, ia menginisiasi dan mendanai pembangunan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) serta Minangkabau Village di Padang Panjang. Kompleks megah berbentuk Rumah Gadang ini menjadi pusat riset budaya Minang yang paling dikagumi. Tak hanya itu, ia juga mempelopori berdirinya rumah sakit jantung di Kota Padang pada awal dekade 1990-an.
Sang Jenderal Pangan mengembuskan napas terakhirnya pada 13 Februari 2011 di Los Angeles, Amerika Serikat, dalam usia 85 tahun. Kendati jasadnya telah tiada dan namanya kini abadi sebagai nama jalan di Padang Panjang, legasi Bustanil Arifin dalam menjaga perut bangsa dan merawat adat leluhur akan selalu hidup melintasi generasi. (*)
Editor : Bambang Harianto