Juragan Beras asal Surabaya yang Habiskan Hartanya Demi Indonesia
Di balik sejarah Surabaya, ternyata pernah ada dinasti crazy rich yang rela menghabiskan hartanya demi perjuangan Indonesia. Namanya Dinasti Gipo.
Berawal dari Abdul Latif Sagipoddin, seorang santri dari kawasan Ampel, Kota Surabaya, yang sukses membangun bisnis beras hingga memiliki jaringan dagang ke India, Persia, Arab, sampai Pakistan.
Keluarga ini pernah punya kapal dagang, gudang, toko, bahkan penginapan di Mekkah. Kekayaannya termasuk yang paling besar di Surabaya pada masanya. Tapi yang bikin kisah mereka dikenang bukan cuma soal harta.
Dinasti Gipo ikut mendukung perjuangan bangsa. Salah satu keturunannya bahkan dikenal sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pertama, Hasan Gipo.
Banyak aset keluarga mereka habis demi perjuangan Indonesia.
Jejak sejarahnya masih ada sampai sekarang di Langgar Gipo, tempat yang dulu jadi titik berkumpul tokoh besar seperti Soekarno, HOS Tjokroaminoto, hingga Wahab Hasbullah. Dinasti Gipo membuktikan kekayaan terbesar bukan soal apa yang dimiliki, tapi apa yang rela dikorbankan untuk bangsa.
Dinasti Gipo berasal dari sosok bernama Abdul Latif Sagipoddin (Tsaqifuddin). la merupakan pengusaha sukses dari kawasan Ampel, Surabaya. Nama "Gipo" sendiri berasal dari penyebutan masyarakat terhadap nama "Sagipoddin." Dari sinilah lahir sebutan : Bani Gipo.
Sebelum jadi saudagar kaya raya, Abdul Latif ternyata hanyalah seorang santri dan masih kerabat Sunan Ampel. Namun karena punya jiwa bisnis yang kuat, ia mulai berjualan beras eceran.
Keahliannya menilai kualitas beras membuat bisnisnya berkembang pesat.
Setelah menikah dengan putri saudagar China, Gipo mendapat modal besar untuk memperluas usahanya. la mulai mengimpor beras dan hasil bumi dari Siam. Bahkan kapal dagangnya berlayar hingga: India, Persia, Arab, dan Pakistan. Dinasti Gipo pun menjadi salah satu keluarga terkaya di Surabaya saat itu.
Tapi kejayaan Dinasti Gipo bukan cuma soal kekayaan. Keluarga ini juga aktif membantu perjuangan bangsa. Salah satu keturunannya adalah: Hasan Gipo, Ketua PBNU pertama. Banyak aset dan kekayaan keluarga mereka digunakan demi perjuangan Indonesia.
Jejak sejarah mereka masih bisa ditemukan di: Langgar Gipo, Surabaya.
Tempat ini dulu menjadi lokasi berkumpulnya tokoh besar seperti: Soekarno, HOS Tjokroaminoto, hingga Wahab Hasbullah. Bahkan calon jemaah haji juga pernah berkumpul di sini sebelum berangkat ke Mekkah.
Dulu mereka punya kapal dagang, toko, gudang, hingga penginapan di Mekkah. Namun sebagian besar aset itu kini hilang, karena habis untuk perjuangan dan dimakan zaman. (*)
*) Source : Kabar Jawa
Editor : Bambang Harianto