Bahaya Tabung Gas CNG 3 Kg

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Perbandingan tekanan gas CNG dan LPG
Perbandingan tekanan gas CNG dan LPG
grosir-buah-surabaya

Pemerintah Indonesia sedang melakukan upaya konversi LPG (Liquefied Petroleum Gas) ke Compressed Natural Gas (CNG). Saat ini, sedang dilakukan uji coba konversi LPG ke CNG.

Alasan Pemerintah, gas CNG lebih efisien dibandingkan LPG. Ferry Koto justru mengingatkan tentang bahaya dari tabung gas CNG 3 kg. Jika meledak bukan hanya dapur yang hancur, tapi rumah. Bahkan bangunan sekitar bisa hancur, dan serpihannya terbang seperti peluru. 

Ferry Koto mengingatkan agar Menteri Enerdi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia harus hati-hari sekali ini dengan idenya. Di seluruh dunia tak ada yang menggunakan tabung untuk memanfaatkan CNG (Metana) untuk keperluan rumah tangga. Bukan karena mereka tidak mampu membuat tabung yang aman, tapi risiko besar yang akan muncul jika CNG dimampatkan ke tabung karena butuh tekanan sangat besar sampai 200 bar. 

“Bandingkan dengan LPG yang hanya 5 bar. Tekanan 200 bar itu sama seperti tekanan terhadap benda yang berada dalam kedalaman laut 2.000 meter alias 2 km (1 bar ekuivalen dgn kedalaman 10 meter). Bayangkan, Kapal Selam TNI AL saja maksimal hanya mampu menahan tekanan sampai kedalaman 500 meter (mungkin kurang), lebih dari itu bakal remuk dan pecah karena strukturnya ndak mampu menahan beban,” kata Ferry Koto.

Sekarang ada tabung gas CNG, yang di dalamnya ada tekanan 200 bar, diurus ibu rumah tangga di Indonesia, yang pasti tidak tahu bahwa ada bom siap meledak jika salah penanganan. Ingat, saat awal tabung 3 kg LPG dibuat, berapa banyak kasus ledakan tabung, padahal cuma 5 bar. 

Kenapa bahaya CNG disimpan di dalam tabung untuk didistribusikan? Ini karena sifat dari wujud benda dengan massa jenisnya. 

Benda padat, seperti besi, dengan berat 1 kg, akan memiliki volume paling segenggaman tangan. 

Benda cair, seperti air, dengan berat 1 kg, akan memiliki volume paling sebotol mineral 1 liter. 

Nah gas seperti CNG, dengan berat 1 kg, akan memiliki volume besar sekali, lebih kurang 1,4 m2 atau 1.400 liter. 

Bayangkan besarnya ruang (volume) yang dibutuhkan gas CNG dengan berat 3 kg, yaitu lebih kurang 4,2 m2 di tekanan ruang (normal). Karena itu lah CNG perlu dimampatkan volumenya. 

Cilakanya, CNG tidak berubah bentuk saat dimampatkan, tetap dalam bentuk gas. Sehingga butuh besar sekali tekanan agar ukuran ruang yg diperlukan menjadi kecil untuk menyimpan CNG dengan berat 3 kg. Besarnya tekanan yang dibutuhkan dari sisi teknis sekitar 200 bar agar bisa dimasukan dalam tabung yang kecil (lebih besar sedikit dari tabung gas LPG 3 kg). 

Untuk menahan tekanan yang besar sampai 200 bar tersebut, butuh bahan tabung dari baja yang tebal, utuh, tanpa sambungan, tanpa las-lasan. Konsekuensinya tabung akan besar sekali, bisa 3-4x berat tabung LPG saat ini. 

Berbeda dengan LPG (yang merupakan produk sampingan pengolahan minyak), hanya butuh tekanan sekitar 5-10 bar. Dan ajaibnya gas LPG berubah wujud menjadi cair saat diberikan tekanan 5-10 bar. Itulah yang menyebabnya tabungnya menjadi kecil sekali, dan ringan.

Dari sisi ekonomi, Pemerintah harus membelanjakan anggaran yang cukup besar sekali untuk mengganti tabung LPG 3 kg, yang digantikan tabung CNG 3 kg. Harga produksi tabung CNG sudah pasti jauh lebih mahal, bisa sampai 20x harga produksi tabung LPG. 

Berbagai sumber menyebut bisa sampai Rp 1,5 juta- Rp 3juta per tabung. Tabung semahal itu, dengan isi gas murah, selain membebani uang negara, juga ada risiko hilang dicuri karena mahalnya. 

Saat ini saja, data kehilangan tabung gas LPG 3 kg saja banyak. Modal Rp 15 ribu-Rp 19 ribu, dengan berat tabung 3 kg LPG yang 5 kg, jika dijual kiloan masih cuan Rp 15 ribu- Rp 20ribu per tabung. Bayangkan bakal tingginya minat menyikat tabung CNG yang beratnya bisa sampai 20 kg. 

Apa tidak amsiong itu Pemerintah mengawasi dan mengganti jika tabung CNG hilang?

Jadi risiko keamanan, risiko anggaran, dan risiko dikilo itulah yang menyebabkan tidak ada negara di dunia yang mendistribusikan CNG dalam bentuk tabung ke rumah-rumah. Yang layak secara ekonomi adalah lewat jaringan pipa gas.

 Saran Ferry Koto, Pemerintah tidak perlu mengkonversi LPG ke CNG dalam tabung 3 kg demi mengurangi subsidi yang menekan fiskal. Justru kebijakan ini akan jauh lebih membebani fiskal, bukan menghemat fiskal. 

Namun, harus diakui, negara kita yang kaya produksi CNG adalah salah jika tidak memanfaatkannya, malah mengimpor LPG. Impor ini selain akan cipatakan ketergantungan, juga akan membuat bengkak beban keuangan negara, terutama untuk LPG subsidi 3 kg. 

Untuk itu, solusi yang masuk akal, hematnya, baik dari sisi keamanan dan ekonomi adalah menggunakan hybrid :

1. Untuk daerah-daerah yang saat ini potensial pemanfaatan CNG karena penghasil gas alam, solusi pipanisasi gas yang perlu dilakukan masif. Misal seperti di Sidoarjo, dan Gresik di Jawa Timur. Yang dapat diperluas ke Kota sekitar seperti Surabaya, Mojokerto, Lumajang.

 Jika seluruh Rumah tangga (juga industri, restor, dan lain-lain) di daerah ini menggunakan jariangan pipa gas, ini akan dapat mengurangi kebutuhan LPG secara signifikan. Ya tentu butuh investasi pipanisasi gas. 

Yang memang mahal, tapi jauh lebih aman dan ekonomis dibanding distribusi dgn tabung gas CNG. 

2. Untuk daerah lain yang masih sulit diakses, karena jauh dari sumber gas alam, dan belum punya stasiun storage, baiknya tetap saja gunakan LPG 3 kg. Sambil ke depan pelan-pelan bangun stasiun gas dan pipanisasi gas CNG. Ini lebih masuk akal daripada konversi LPG 3 kg ke CNG 3 kg.

Colombia Natural Gas (Ohio AS) pada tahun 1960 pernah gagal disain tempat simpan CNG di sebuah kapal karena tidak kuat tahan tekanan. Itu juga sebabnya India, China, Iran, Brazil, saat ini hanya menggunakan pada kendaraan saja (CNV), tidak utk konsumsi rumah tangga (kecuali hotel). (*)