Keikhlasan Salman Al Farisi Saat Wanita yang Dicinta Memilih Sahabatnya
Di jalan-jalan Madinah yang teduh, seorang lelaki berjalan dengan hati yang sedang dipenuhi harapan. Namanya Salman Al-Farisi RA.
Setelah perjalanan hidup yang panjang mencari kebenaran, setelah meninggalkan kampung halamannya, keluarganya, bahkan seluruh kenyamanan dunia demi menemukan Islam, kali ini hatinya diuji oleh sesuatu yang lebih sunyi: cinta.
Ada seorang wanita Anshar yang diam-diam membuat hatinya bergetar. Wanita salehah yang akhlaknya begitu indah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Salman membayangkan sebuah rumah sederhana yang dipenuhi ketenangan, tempat ia pulang setelah berjuang di jalan Allah. Dengan penuh harap, ia memutuskan untuk melamarnya.
Namun Salman bukan penduduk Madinah. Ia tidak begitu memahami adat dan kebiasaan kaum Anshar dalam urusan khitbah. Maka ia mendatangi sahabat yang sangat ia percayai, Abu Darda RA.
"Aku ingin melamar seorang wanita," ucap Salman pelan.
Wajah Abu Darda langsung berbinar. Ia memeluk sahabatnya erat.
"Semoga Allah memudahkan urusanmu, wahai saudaraku."
Hari-hari berikutnya diisi dengan persiapan. Salman menyiapkan mahar. Menyiapkan nafkah. Menyiapkan mimpi-mimpi kecil yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah.
Lalu tibalah hari itu. Mereka berdua berjalan menuju rumah wanita yang dicintai Salman. Sepanjang perjalanan, hati Salman berdebar. Mungkin sebentar lagi hidupnya akan berubah.
Mungkin sebentar lagi ia akan memiliki seseorang yang menunggunya pulang. Mungkin sebentar lagi kesendiriannya akan berakhir. Setibanya di sana, keluarga wanita itu menyambut mereka dengan baik.
Abu Darda memperkenalkan Salman dengan penuh penghormatan. Ia menceritakan keutamaan sahabatnya itu. Tentang keimanannya. Tentang pengorbanannya. Tentang kedekatannya dengan Rasulullah SAW.
Salman hanya menunduk. Menunggu. Berharap. Berdoa. Lalu jawaban itu datang. Dari balik hijab, terdengar suara sang ibu.
"Kami perlu berterus terang."
Jantung Salman semakin berdebar. Beberapa detik berikutnya terasa seperti bertahun-tahun. Kemudian kalimat itu terdengar.
"Putri kami menerima, jika Abu Darda juga memiliki keinginan yang sama."
Sunyi. Begitu sunyi. Seakan seluruh suara di Madinah menghilang dalam satu detik. Salman tidak ditolak karena kurang baik. Tidak ditolak karena kurang saleh. Namun hati wanita itu ternyata memilih orang yang berjalan bersamanya hari itu. Memilih sahabat yang selama ini ia percaya. Memilih Abu Darda.
Betapa beratnya menerima kenyataan bahwa seseorang yang telah memenuhi doa-doamu ternyata ditakdirkan menjadi milik orang lain. Betapa pedihnya menyaksikan mimpi yang telah kau bangun perlahan runtuh tepat di depan matamu.
Dan yang lebih menyakitkan lagi... kau harus tersenyum ketika hatimu sedang hancur. Namun Salman Al-Farisi bukan lelaki biasa. Ia tahu bahwa cinta bisa dipaksa untuk datang, tetapi hati manusia tetap berada dalam genggaman Allah.
Maka ia menelan seluruh kecewanya sendirian. Menyembunyikan seluruh luka di balik keimanan. Lalu dengan suara yang bergetar oleh ketegaran, ia mengucapkan, "Allahu Akbar."
Tidak ada amarah. Tidak ada iri. Tidak ada kebencian. Yang ada hanyalah seorang hamba yang sedang belajar menerima keputusan Rabb-nya. Salman kemudian melakukan sesuatu yang mungkin tidak sanggup dilakukan oleh kebanyakan manusia.
Ia memberikan seluruh persiapan pernikahannya kepada Abu Darda. Harta yang telah ia kumpulkan. Mahar yang telah ia siapkan. Bekal yang telah ia simpan. Semuanya.
Bahkan ketika hari pernikahan itu tiba, Salman hadir sebagai saksi. Menyaksikan wanita yang pernah ia impikan berjalan menuju lelaki lain. Menyaksikan harapan yang pernah ia bangun menjadi kebahagiaan sahabatnya. Dan ia tetap mendoakan mereka.
Barangkali di situlah letak keikhlasan yang sesungguhnya. Bukan ketika kita kehilangan sesuatu yang tidak kita inginkan. Tetapi ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai... lalu tetap berkata, "Ya Allah, aku ridha atas pilihan-Mu." (*)
Editor : Redaksi