Oei Tambah Sia, Playboy Batavia yang Flexing Pakai Uang Kertas
Batavia pertengahan abad ke-19 pernah mengenal seorang pemuda yang tampan, kaya raya, modis, dan ditakuti banyak orang. Namanya Oei Tambah Sia. Ia bukan bangsawan Eropa, bukan pula pejabat kolonial. Namun pengaruhnya begitu besar karena lahir dari salah satu keluarga Tionghoa terkaya di kota itu.
Di balik kemewahan hidupnya, tersimpan kisah tentang kesombongan, penyalahgunaan kekuasaan, penculikan perempuan, pembunuhan, hingga eksekusi mati yang disaksikan ratusan warga Batavia. Namanya kemudian berubah menjadi legenda gelap dalam sejarah Betawi.
Anak Orang Kaya yang Tumbuh Tanpa Batas
Kisah Oei Tambah Sia tak bisa dilepaskan dari ayahnya, Oei Thoa. Oei Thoa adalah saudagar tembakau sukses asal Pekalongan yang kemudian menetap di Batavia. Kekayaannya sangat besar. Ia dikenal dermawan dan sering membantu kaum miskin.
Sejarawan Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik menggambarkan Oei Thoa sebagai sosok yang "berjiwa sosial dan sering memberikan pertolongan kepada orang-orang yang tidak mampu."
Setiap tanggal satu dan lima belas menurut kalender Tionghoa, ratusan orang miskin menunggu kehadirannya di Kelenteng Kim Tek Ie untuk menerima bantuan.
Karena jasa dan pengaruhnya, pemerintah kolonial Belanda mengangkatnya menjadi Letnan Tionghoa, jabatan elite yang berfungsi sebagai pemimpin komunitas Tionghoa. Namun, kebaikan sang ayah seolah tidak menurun kepada putranya.
Oei Tambah Sia lahir sekitar tahun 1827. Bersama saudaranya, Oei Makau Sia, ia tumbuh dalam limpahan kekayaan. Gelar "Sia" di belakang namanya menunjukkan status sosial tinggi sebagai keturunan pejabat Tionghoa kolonial.
Setelah Oei Thoa meninggal dunia, seluruh kemewahan itu jatuh ke tangan Tambah. Dan semuanya berubah.
Playboy Batavia yang Hidup dengan Prinsip : Semua Bisa Dibeli
Jika dalam budaya Tionghoa dikenal istilah Ma Lima-lima kebiasaan buruk-maka Oei Tambah Sia dianggap memenuhi hampir semuanya. Ia gemar main (berjudi), madat (menghisap candu), dan madon (bermain perempuan).
Sabung ayam menjadi hiburan favoritnya. Opium menjadi teman keseharian. Sementara perempuan menjadi obsesi yang nyaris tak mengenal batas. Bukan sekadar berganti pasangan, Tambah dikenal gemar merebut istri orang dan menculik anak gadis.
Ia memiliki centeng-centeng bertubuh kekar yang siap menjalankan perintah. Ia juga mempunyai germo langganan yang bertugas mencarikan perempuan-perempuan cantik untuk memuaskan hasratnya.
Bagi masyarakat Batavia, Oei Tambah Sia adalah simbol kekuasaan uang yang sulit disentuh hukum.
Menurut Benny Setiono, ia "Memelihara hubungan baik dengan para pembesar Belanda yang ternyata juga banyak yang korup dan bersedia jadi pelindungnya. Ia merasa dengan uangnya ia dapat memperoleh segala apa pun yang ia inginkan."
Flexing Paling Gila dalam Sejarah Batavia
Di era media sosial, orang flexing lewat mobil mewah atau jam mahal.
Oei Tambah Sia punya cara yang jauh lebih ekstrem. Menurut Alwi Shahab dalam Oey Tambahsia, Playboy Betawi (2007), setiap kali buang air besar di jamban dekat Kali Krekot, ia menggunakan uang kertas untuk membersihkan dirinya.
Setelah dipakai, uang itu dilempar begitu saja.
Orang-orang miskin yang sudah menunggu di bawah jamban berebut uang bekas tersebut. Pemandangan itu menjadi simbol jurang sosial Batavia: satu orang membuang uang demi kesombongan, sementara banyak orang mempertaruhkan harga diri demi bertahan hidup.
Bintang Mas, Istana Kenikmatan di Ancol
Tambah memiliki bungalow bernama Bintang Mas di kawasan Ancol. Tempat itu mirip harem pribadi. Perempuan-perempuan simpanannya tinggal di sana.
Jika sedang berkuda keliling kota dan tak menemukan perempuan yang diinginkan, ia meminta germo mencarikannya. Jika gagal juga, ia tak segan menggunakan kekerasan. Salah satu korbannya adalah Nyonya Khoe Tjin Yang, istri seorang pedagang kelontong di Tongkangan.
Perempuan itu berhasil dirayu dan dibawa ke Bintang Mas. Suaminya dikabarkan mengalami gangguan jiwa setelah kehilangan istrinya. Namun dari sekian banyak perempuan, ada satu nama yang benar-benar mengubah jalan hidup Tambah, dia adalah Mas Ajeng Gunjing.
Cinta yang Berubah Menjadi Petaka
Mas Ajeng Gunjing adalah seorang pesinden cantik asal Pekalongan. Mereka bertemu dalam sebuah pesta pernikahan. Dengan ketampanan dan kekayaannya, Tambah berhasil memikat sang pesinden dan membawanya ke Batavia. Namun cinta ternyata tidak mengubah sifatnya.
Alwi Shahab menulis : "Betapapun cintanya Tambah Sia kepada Gundjing, ia tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya untuk berburu gadis, janda maupun istri orang lain."
Ketika Mas Ajeng sakit dan dipindahkan ke rumah besar Tambah di Pasar Baru, datanglah seorang tamu dari Pekalongan : Mas Sutejo.
Ia ternyata saudara kandung Mas Ajeng. Tetapi Tambah tidak mengetahui hal itu.
Dibutakan api cemburu, ia memerintahkan centengnya untuk menghabisi nyawa Sutejo secara diam-diam. Mas Sutejo pun menghilang.
Kejahatan yang Akhirnya Terbongkar
Masalah tak berhenti di situ. Seorang pembantu Tambah bernama Tjeng Kie juga tewas diracun. Tambah mencoba mengalihkan tuduhan kepada musuh lamanya, Liem Soe King, menantu Mayor Tan Eng Gan. Namun kali ini keberuntungan tak lagi berpihak kepadanya.
Mayor Tan Eng Gan, pemimpin komunitas Tionghoa yang selama ini menahan diri, akhirnya bergerak. Liem Soe King diperintahkan mengumpulkan bukti. Polisi kolonial dan Asisten Residen ikut turun tangan. Bahkan Mas Ajeng Gunjing turut membantu penyelidikan.
Di hadapan Asisten Residen, Mas Ajeng merasa heran melihat centeng Tambah bernama Piun memakai kain batik milik Mas Sutejo. Piun pun diperiksa.
Ia akhirnya mengakui Tambahlah yang memerintahkan pembunuhan itu.
Akhir Sang Playboy Batavia
Oei Tambah Sia ditangkap. Ia diadili di Pengadilan Negeri Landraad. Vonisnya tegas : hukuman mati.
Segala upaya banding dan permohonan grasi kepada Gubernur Jenderal Duymaer van Twist ditolak.
Sekitar tahun 1851, pemuda tampan yang selama ini merasa kebal hukum itu akhirnya digiring ke depan Balai Kota Batavia—kini kawasan Museum Fatahillah, Kota Tua Jakarta. Ratusan warga berkumpul menyaksikan.
Tak ada lagi pesta mewah. Tak ada lagi perempuan simpanan. Tak ada lagi uang yang bisa membeli segalanya. Di hadapan publik, Oei Tambah Sia mengakhiri hidupnya di ujung tali gantung.
Dari Pria playboy Menjadi Legenda Gelap Batavia
Kisah Oei Tambah Sia kemudian hidup sebagai folklore Betawi. Namanya muncul dalam berbagai buku, salah satunya Tambahsia: Soewatoe Tjerita jang Betoel Soedah Kedjadian di Betawi karya Thio Tjin Boen pada 1903.
Bagi sebagian orang, ia adalah simbol dekadensi kaum elite kolonial. Bagi yang lain, ia menjadi peringatan bahwa kekayaan tanpa batas moral hanya akan melahirkan kehancuran. Sebab pada akhirnya, bahkan di Batavia yang penuh ketimpangan, ada satu hal yang tak bisa dibeli oleh uang: kebebasan dari akibat perbuatan sendiri. (*)
Editor : S. Anwar