Udang Indonesia Aman Dikonsumsi Meski Ditemukan Cesium 137
Kabar mengejutkan datang dari dunia tambak udang. Pertama, kabar tentang tarif produk Indonesia ke Amerika Serikat yang bikin harga udang tertekan. Kedua, dugaan temuan radioaktif Cesium-137 pada udang beku asal Indonesia.
Dampaknya, harga udang di tingkat petambak langsung ikut anjlok. Apalagi ada pabrikan besar yang sementara tidak terima hasil panen gara-gara isu radioaktif ini. Hasilnya, harga makin tidak stabil dan cenderung turun.
Revenue petambak pun ikut menurun, sementara biaya operasional tetap sama—bahkan ada yang naik. Ujung-ujungnya margin jadi makin tipis.
Jadi apa langkah bijaknya? Lebih hati-hati atur strategi budidaya, gunakan pakan dan bahan pendukung seefisien mungkin, dan cari opsi buyer baru: lokal, luar daerah, atau buyer yang punya akses ekspor ke negara tetangga.
Shrimp Club Indonesia (SCI) turut menanggapi atas pemberitaan mengenai dugaan temuan radioaktif Cesium-137 pada produk udang beku asal Indonesia di Amerika Serikat. Shrimp Club Indonesia (SCI) menyampaikan klarifikasi sebagai berikut:
1. Hasil Temuan FDA
FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat melaporkan kadar Cs-137 sebesar 68 Bq/kg pada salah satu sampel udang dalam kontainer milik PT Bahari Makmur Sejati (BMS).
Untuk diketahui, batas intervensi resmi FDA untuk Cs-137 adalah 1.200 Bq/kg. Artinya, hasil temuan ini jauh di bawah ambang batas yang dianggap berisiko bagi kesehatan konsumen.
Dengan demikian, bagi konsumen, angka 68 Bq/kg tidak menimbulkan risiko kesehatan langsung.
2. Status Investigasi di Indonesia
BAPETEN saat ini sedang melakukan investigasi mendalam terkait dugaan sumber kontaminasi.
Shrimp Club Indonesia mendapat informasi bahwa laporan final investigasi diperkirakan akan keluar minggu depan dan akan menjadi dasar penjelasan resmi pemerintah kepada publik.
Selain BAPETEN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Kedutaan Besar Amerika Serikat juga terlibat dalam koordinasi untuk memastikan penanganan yang transparan dan tepat.
3. Sumber Kontaminasi
Indikasi awal menunjukkan bahwa kontaminasi tidak berasal dari proses budidaya udang, tidak pula dari pakan atau air tambak. Temuan ini terkait dengan fasilitas produksi PT Bahari Makmur Sejati di kawasan industri Cikande, Serang.
Dengan demikian, kasus ini bersifat insidental dan bukan masalah yang melekat pada industri udang Indonesia secara keseluruhan.
4. Dampak terhadap Ekspor
Ekspor PT Bahari Makmur Sejati ke Amerika Serikat ditangguhkan sementara hingga investigasi selesai. Kasus ini hanya berdampak pada produk BMS dalam batch tertentu, tidak meluas ke perusahaan atau produsen udang Indonesia lainnya.
5. Komitmen dan Koordinasi
Shrimp Club Indonesia bersama Pemerintah Indonesia akan terus berkoordinasi untuk menjaga nama baik dan kredibilitas udang Indonesia di pasar internasional.
PT Bahari Makmur Sejati telah menyatakan siap bekerja sama penuh dengan pihak berwenang dan menjadi korban dari insiden di luar kendali industri udang.
Kesimpulan
- Udang Indonesia aman dikonsumsi.
- Kadar Cs-137 yang ditemukan FDA pada sampel udang BMS hanya 68 Bq/kg, jauh di bawah ambang batas risiko kesehatan (1.200 Bq/kg).
- Kasus ini terbatas pada satu perusahaan (BMS) dan batch tertentu, bukan mencerminkan keseluruhan industri udang nasional.
- Shrimp Club Indonesia mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap tenang, tidak menyebarkan informasi simpang siur, dan menunggu hasil investigasi resmi minggu depan. (*)
Editor : S. Anwar