Yusril Ihza Mahendra Sang Penulis Pidato 3 Presiden
Di panggung politik dan hukum Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra adalah sebuah epik hidup. Lahir pada 5 Februari 1956 di Belitung, sosoknya laksana jangkar yang selalu hadir di setiap tikungan sejarah transisi kekuasaan negara. Puncaknya pada 21 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto mempercayakan mandat besar kepadanya sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) dalam Kabinet Merah Putih.
Pelantikan ini menegaskan status Yusril sebagai salah satu arsitek tata negara paling tangguh yang pernah dimiliki bangsa ini.
Darah Ulama-Bangsawan dan Tradisi Cendekia Melayu
Yusril tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kental dengan tradisi intelektual Melayu, filsafat, dan agama. Yusril Ihza Mahendra merupakan putra ke-6 dari pasangan Idris bin Haji Zainal Abidin dan Nursiha Binti Jama Sandon. Garis keturunan ayahnya bermuara pada bangsawan Kesultanan Johor, sementara pihak ibunya berasal dari Aie Tabik, Payakumbuh, Sumatra Barat, yang memiliki darah Persia dari seorang ulama penyebar Islam di Belitung.
Kecerdasan akademisnya terasah tajam sejak di Universitas Indonesia (UI), tempat ia mengawinkan dua disiplin ilmu sekaligus: Hukum Tata Negara (Fakultas Hukum) dan Filsafat (Fakultas Sastra). Menempuh studi filsafat hingga jenjang S3 di UI dan University of the Punjab (Pakistan), Yusril merengkuh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam Ilmu Politik dari Universiti Sains Malaysia pada 1993. Pada tahun 1998, dalam usia yang relatif muda, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara UI.
Di Balik Pena Kepresidenan : Menulis Ratusan Pidato dari Soeharto hingga SBY
Sebelum memimpin kementerian, nama Yusril adalah kekuatan di balik layar Sekretariat Negara sejak zaman Orde Baru. Masuk ke lingkaran istana di bawah pimpinan Moerdiono pada 1996, Yusril memegang tugas krusial: merancang naskah kepresidenan dan menulis pidato resmi kepala negara.
Rekam jejak penanya sangat mencengangkan:
Era Presiden Soeharto : Menulis sebanyak 204 pidato, termasuk bertindak sebagai salah satu konseptor utama teks pidato pengunduran diri bersejarah Soeharto pada Mei 1998.
Era Presiden B.J. Habibie: Melanjutkan tugas mengawal narasi kenegaraan di awal reformasi.
Era Presiden SBY: Menulis lebih dari 300 naskah pidato kepresidenan yang sarat akan bobot diplomasi.
Sang Reformis Muslim dan Nakhoda Partai Bulan Bintang
Saat arus Reformasi 1998 bergejolak, Yusril mengambil peran aktif. Bersama para tokoh reformis muslim dari 22 ormas Islam, ia membidani lahirnya Partai Bulan Bintang (PBB)—partai yang memanggul warisan cita-cita luhur Masyumi. Ia didaulat menjadi Ketua Umum pertama pada 17 Juli 1998 dan berulang kali terpilih secara aklamasi hingga Muktamar V tahun 2020 di Tanjungpandan.
Di kancah pemerintahan, posisi menteri bukanlah hal baru baginya. Ia tercatat sudah tiga kali menjabat sebagai menteri di tiga era berbeda: Menteri Hukum dan Perundang-undangan (Kabinet Persatuan Nasional), Menteri Hukum dan HAM (Kabinet Gotong Royong), serta Menteri Sekretaris Negara (Kabinet Indonesia Bersatu).
Singa Diplomasi di Forum Hukum Internasional
Kapasitas Yusril diakui secara luas di panggung dunia. Mewakili Indonesia di forum PBB, ia memimpin delegasi dalam pengesahan berbagai konvensi internasional penting, seperti UN Convention on Transnational Organized Crime di Palermo, Italia, dan UN Convention Against Corruption di New York.
Ia juga tercatat pernah menjabat sebagai Presiden Asian-African Legal Consultative Organization (AALCO) di New Delhi, India, serta memimpin KTT Asia Afrika II di Jakarta. Atas dedikasinya, negara menganugerahinya penghargaan tertinggi Bintang Bhayangkara Utama (2004) dan Bintang Mahaputra Adipradana (2015).
Dinasti Hukum Ihza & Ihza dan Kehidupan Pribadi
Di luar kesibukan birokrasi, Yusril membangun imperium hukum bersama saudara-saudaranya melalui Ihza & Ihza Law Firm. Kini, firma hukum elite tersebut turut diperkuat oleh anak-anaknya: Yuri Kemal Fadlullah, Kenia Khairunnisa Mahendra, dan Ali Reza Mahendra, yang menduduki kantor cabang SCBD dan Bali.
Dalam kehidupan pribadi, pasca-bercerai dengan Kessy Sukaesih pada 2005, Yusril menambatkan hatinya pada Rika Tolentino Kato, seorang wanita berdarah campuran Jepang-Filipina yang memeluk Islam pada 2006 dan resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Dari pernikahan keduanya, lahir dua buah hati: Ishmael Zacharias Mahendra dan Anissa Zulaikha Mahendra.
Dari Belitung menuju pusat kendali hukum nasional, Yusril Ihza Mahendra tetap kokoh berdiri sebagai pendekar hukum tata negara, politikus ulung, dan kini, dirigen utama yang mengomandani reformasi hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), imigrasi, serta pemasyarakatan di era Kabinet Merah Putih. (*)
*) Source : Nasrul Koto PSU
Editor : S. Anwar