Jenderal Wiranto dari Ajudan Soeharto Sampai Penasihat Prabowo Subianto

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Jenderal Wiranto
Jenderal Wiranto
grosir-buah-surabaya

Dalam panggung politik dan militer Indonesia, nama Jenderal TNI (Purn.) Wiranto merupakan fenomena langka. Ia adalah sedikit dari tokoh bangsa yang memiliki karier super awet, melintasi berbagai era kepemimpinan nasional sejak masa Orde Baru hingga era Reformasi. Dinamisnya arah angin politik tanah air seolah tidak pernah menggeser posisi Wiranto dari episentrum kekuasaan.

Gerbang Awal : Kepercayaan di Era Orde Baru

Karier Wiranto di lingkaran tertinggi kekuasaan dimulai secara gemilang saat ia terpilih menjadi Ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1989 hingga 1993. Posisi prestisius ini menjadi batu loncatan besar yang melesatkan karier militernya.

Hanya dalam beberapa tahun setelahnya, ia dipercaya memegang tongkat komando tertinggi sebagai Panglima Kodam Jaya, Panglima Kostrad, hingga puncaknya dilantik menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI/TNI) sekaligus Menteri Pertahanan dan Keamanan pada tahun 1998. Wiranto menjadi saksi hidup sekaligus aktor kunci di masa-masa kritis transisi reformasi.

Jangkar Stabilitas di Masa Transisi

Saat badai reformasi menumbangkan Orde Baru, posisi Wiranto tidak goyah. Di bawah Presiden BJ Habibie, ia tetap dipertahankan sebagai Panglima ABRI dan Menhankam untuk menjaga stabilitas keamanan negara yang tengah bergejolak.

Ketika kepemimpinan berganti ke tangan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wiranto kembali masuk kabinet dan dipercaya menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam). Kemampuannya membaca peta politik membuat sosoknya selalu dibutuhkan untuk meredam tensi di masa transisi.

Bertahan Melintasi Dekade Baru

Sempat memilih jalur politik praktis dengan mendirikan Partai Hanura dan beberapa kali maju dalam kontestasi pemilu, Wiranto kembali ditarik ke dalam pemerintahan pada masa Presiden Joko Widodo. Pada periode pertama Jokowi, ia menjabat sebagai Menko Polhukam (2016–2019). Memasuki periode kedua, ia tidak lantas tersisih dan justru dipercaya menduduki kursi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dari tahun 2019 hingga 2024.

Kini, di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tongkat estafet pengabdian Wiranto ternyata masih terus berlanjut. Berbekal pengalaman matang selama puluhan tahun di birokrasi keamanan dan pertahanan, Wiranto kembali dipercaya masuk ke dalam lingkaran istana untuk mengemban tugas sebagai penasihat presiden.

Dari ajudan Soeharto hingga penasihat Prabowo, perjalanan Jenderal Wiranto menegaskan statusnya sebagai sosok "legend" yang piawai merawat pengaruh dan menjaga kepercayaan di setiap musim politik Indonesia. (*)