Dua Oknum Polres Pekalongan Terseret Penipuan Rekrutmen AKPOL

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Dwi Purwanto
Dwi Purwanto
grosir-buah-surabaya

Dua oknum Polisi yang bertugas di jajaran Polres Pekalongan diduga melakukan dugaan tindak pidana penipuan dalam proses rekrutmen Akademi Kepolisian (AKPOL). Korbannya ialah Dwi Purwanto alias Ipung (42 tahun), seorang pengusaha asal Desa Kulu, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.

Dari dugaan penipuan tersebut, Dwi Purwanto mengaku kehilangan uang sebesar Rp 2,6 miliar. Dua oknum Polisi yang terseret dalam dugaan penipuan rekrutmen AKPOL ialah Aipda Fachrurohim (anggota Polsek Paninggaran) dan Bripka Alexander Undi Karisma (anggota Polsek Doro).

Kronologi dugaan penipuan rekrutmen AKPOL ini diuraikan oleh Dwi Purwanto. Kejadiannya bermula ketika Dwi Purwanto menerima pesan WA (Whatsapp) dari Aipda Fachrurohim pada 9 desember 2024. Dalam pesan Whatsapp tersebut, Aipda Fachrurohim memberitahukan terkait rekrutmen AKPOL.

Aipda Fachrurohim menawarkan kepada Dwi Purwanto jika dia bisa meloloskan anak Dwi Purwanto dalam seleksi rekrutmen AKPOL melalui jalur khusus. Jalur khusus tersebut ialah “Kuota Kapolri”.

Namun, jalur khusus tersebut tidak gratis. Dwi Purwanto diminta menyediakan uang Rp 3,5 miliar. Untuk memperkuat klaimnya tersebut, Aipda Fachrurohim mengaku punya orang dalam yang dekat dengan Agung, yang diklaim sebagai adik Kapolri.

Aipda Fachrurohim juga punya kenalan seorang pensiunan jenderal Polisi dengan julukan “Babe”. Dan ada 1 kuota AKPOL yang masih kosong, karena pindah daftar ke TNI.

“Kata Fachrurohim, sebelumnya ada yang mau pakai kuotanya tapi nggak jadi karena orangnya daftar tentara, jadinya ada satu kuota kosong,” kata Dwi Purwanto.

Agar Dwi Purwanto semakin yakin, Aipda Fachrurohim datang ke rumah Dwi Purwanto. Aipda Fachrurohim tidak sendirian, tapi bersama dengan Bripka Alexander Undi Karisma. Alexander Undi Karisma mengaku mantan anggota Densus sekaligus adik leting Fachrurohim.

“Katanya ini kuota khusus, tinggal bayar Rp3,5 miliar. Separuh dulu tanda jadi, sisanya setelah panpus (pantukhir pusat),” ujar Dwi Purwanto menirukan ucapan Fachrurohim kepada media pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Dari pemaparan yang disampaikan oleh Aipda Fachrurohim dan Bripka Alexander Undi Karisma, Dwi Purwanto semakin yakin bahwa mereka punya orang dalam agar anak Dwi Purwanto bisa lolos seleksi AKPOL. Kemudian Dwi Purwanto menyerahkan uang Rp 500 juta sebagai uang muda dari permintaan sebesar Rp 3,5 miliar pada 21 Desember 2024 di sebuah kafe di Semarang.

Pada 8 Januari 2025, Aipda Fachrurohim dan Bripka Alexander Undi Karisma kembali meminta uang ke Dwi Purwanto sebesar Rp 1,5 miliar. Alasannya, uang tersebut digunakan untuk “penutupan administrasi di Jakarta”, dan harus disediakan secepatnya.

cctv-mojokerto-liem

Dwi Purwanto kemudian meminjam ke saudaranya dari hasil menjual 2 unit mobilnya, yaitu Rubicon dan Mini Copper. Dia menyerahkan uang Rp 1,5 miliar kepada Fachrurohim dan Bripka Alexander Undi Karisma.

Beberapa hari berikutnya, Fachrurohim dan Bripka Alexander Undi Karisma mengajak Dwi Purwanto untuk bertemu dengan Agung dan Joko, yang diperkenalkan sebagai penghubung ke Babe. Usai pertemuan itu, Aipda Fachrurohim dan Bripka Alexander Undi Karisma kembali meminta uang ke Dwi Purwanto.

Dwi Purwanto kemudian transfer ke rekening Joko sebesar Rp 650 juta yang ditransfer sebanyak 4 kali. Total yang dikeluarkan Dwi Purwanto sebesar Rp 2,65 miliar, yang diserahkan ke Fachrurohim, Bripka Alexander Undi Karisma dan Joko.

Dalam proses seleksi rekrutmen AKPOL, anak dari Dwi Purwanto sempat dibawa ke Jakarta. Alasannya mengikuti pelatihan dan karantina sebelum seleksi lanjutan.

Namun saat pengumuman kelulusan di tahap rikkse (pemeriksaan kesehatan), nama anak Dwi Purwanto tidak masuk dalam daftar yang lolos. Dwi Purwanto merasa tertipu. Yang paling disesalkan oleh Dwi Purwanto, Fachrurohim tega menipunya. Padahal, Fachrurohim mengenal, Fachrurohim sejak tahun 2011 sebagai sahabat karib.

Karena gagal masuk AKPOL, Dwi Purwanto menagih uangnya agar dikembalikan ke Fachrurohim, Bripka Alexander Undi Karisma dan Joko. Namun, mereka saling lempar tanggunghawab.

Karena itu, Dwi Purwanto melaporkan dugaan penipuan yang dialaminya ke Polda Jawa Tengah. Kapolres Pekalongan, AKBP Rachmad C. Yusuf menyerahkan proses hukum yang melibatkan anggotanya ke Bidang Propram Polda Jawa Tengah.

“Kami menerima informasi adanya dugaan penipuan terkait rekrutmen anggota Polri. Hasil perkembangan laporan ini dilaksanakan di Bidang Propram Polda Jawa Tengah. Dan masih pengembangan. Terduga, 2 anggota Polres Pekalongan. Kami masih koordinasi dengan Polda terkait penanganan penyelidikan di Polda,” kata Kapolres Pekalongan. (*)