Mohammad Hatta Menolak Fasilitas Negara untuk Berhaji

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Mohammad Hatta
Mohammad Hatta
grosir-buah-surabaya

Wakil Presiden Republik Indonesia, Mohammad Hatta pergi haji bukan dengan pesawat negara. Bukan dengan uang rakyat. Tapi dengan royalti dari buku-buku yang ia tulis sendiri, dikumpulkan sedikit demi sedikit sejak ia masih menyisihkan 25 sen untuk beli buku di masa mudanya.

Pensiun dengan gaji Rp 3.000, susah bayar listrik, tapi tidak pernah goyah. Karena bagi Hatta, integritas bukan pilihan tapi itu satu-satunya cara ia tau bagaimana hidup.

Presiden Soekarno saat itu pernah menawarkan pesawat negara untuk haji Mohammad Hatta, tapi Mohammad Hatta menolak. Mohammad Hatta memilih membayar sendiri dari royalti bukunya.

Mohammad Hatta bilang, haji adalah urusan antara dirinya dan Tuhan bukan agenda kedinasan. Tidak ada alasan yang membenarkan uang rakyat dipakai untuk keperluan pribadinya.

Sejak kecil, Mohammad Hatta sisihkan 25 sen untuk beli buku. Saat diasingkan ke Boven Digoel, ia bawa 16 peti buku. Saat menikah, maharnya karya tulisnya sendiri. Dan saat ingin haji, royalti dari buku-bukunya yang bayar semua ongkos perjalanannya.

Malam sebelum berangkat, ribuan warga dari berbagai agama menginap di Bandara Kemayoran, Jakarta. Bukan karena diperintah. Tapi karena mereka menyaksikan sendiri. Mereka ingin melepasnya dengan hormat.

Di Arab Saudi, bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kalinya di Arafah pada hari wukuf. Mohammad Hatta juga usulkan perluasan Masjidil Haram kepada Raja Ibnu Saud karena ia melihat jemaah yang kian padat dan tidak ada yang memikirkan solusinya. Bahkan di tanah suci, ia tetap berpikir untuk orang lain.

Setelah tidak lagi menjabat, Mohammad Hatta hidup dari pensiun Rp 3.000 per bulan. Sering kesulitan bayar tagihan listrik dan air. Ditawari posisi di Bank Dunia, ia tolak. Putrinya kecewa karena impian sekolah ke luar negeri harus ditangguhkan. Tapi bagi Mohammad Hatta, kejujuran bukan sesuatu yang bisa ditawar.

Akhirnya Ali Sadikin yang turun tangan membebaskan Mohammad Hatta dari pajak dan tagihan utilitas agar Proklamator itu bisa hidup layak tanpa harus mencederai integritasnya sendiri. (*)