KH Mohammad Faqih Maskumambang, Penjaga Tradisi dari Gresik

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
KH Mohammad Faqih Maskumambang
KH Mohammad Faqih Maskumambang
grosir-buah-surabaya

Ada kisah dua ulama besar tentang kentongan yang ada di masjid sebagai pertanda waktu salat tiba. Cerita kentongan ini adalah antara Kiai Faqih Maskumambang, Gresik dengan Kiai Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Kabupaten Jombang. Yang satu adalah Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) dan satunya Wakil Rais Akbar.

Kiai Hasyim tidak memperbolehkan pemakaian kentongan sebagai alat pertanda waktu salat sebelum dan sesudah azan. Sedangkan Kiai Faqih berpendapat lain, yakni boleh menggunakan kentongan sah-sah saja. Kiai Hasyim berargumentasi ada tersebut tidak adanya dalil yang memperbolehkan.

Namun Kiai Faqih memperbolehkan penggunaan kentongan karena adanya kebolehan menggunakan bedug, jadi diqiyaskan atau disamakan hukumnya. Bila bedug boleh digunakan untuk memanggil salat hal ini berlaku pula bagi kentongan.

Lantas siapakah KH Mohammad Faqih Maskumambang itu? KH Mohammad Faqih Maskumambang merupakan putra keempat dari KH Abdul Djabbar. KH Mohammad Faqih Maskumambang lahir pada tahun 1857, di Desa Sembungan Kidul, Dukun, Gresik. 

Sedari kecil, Muhammad Faqih mendapat pendidikan langsung dari ayahnya dengan disiplin tinggi. Tidak mengherankan ketika muda mampu menyelami samudera Al-Qur’an melalui qira’at Nafi’. Selain menghafal, Faqih muda juga membedah kitab-kitab fikih klasik. Salah satu karya yang beliau khatamkan adalah Minhaj al-Thalibin karya Imam al-Nawawi.

Selanjutnya tercatat pernah menimba ilmu di beberapa pesantren seperti Pesantren Ngelom (Sidoarjo), Pesantren Kebondalem (Surabaya). Selain itu juga nyantri pada Pesantren Langitan (Tuban), dan Pesantren Qomaruddin (Bungah, Gresik). Tahun 1880 menjadi titik balik besar bagi perjalanan hidupnya. 

Di usia yang masih belia, KH Mohammad Faqih Maskumambang berangkat menuju Mekkah untuk menunaikan haji sekaligus bermukim. Kota suci itu saat itu menjadi titik temu para pemikir Islam global. KH Mohammad Faqih Maskumambang tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk berguru kepada para pemegang otoritas ilmu.

KH Mohammad Faqih Maskumambang duduk bersimpuh di majelis Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha dan Sayyid Umar bin Muhammad Syatha. Di bawah bimbingan para mufti, beliau melahap kitab-kitab hadis primer. KH Mohammad Faqih Maskumambang mengaji Shahih Tirmidzi kepada Syekh Sa’id bin Muhammad Ba-Bashil dan Shahih Bukhari kepada Sayyid Husain bin Muhammad al-Habsyi. Jaringan sanadnya tersambung hingga ke ulama-ulama besar dunia seperti Mahfuzh bin Abdullah al-Tarmasi.

KH Mohammad Faqih Maskumambang juga pernah berguru pada Syekh Kholil Bangkalan, mahaguru para ulama Jawa. Di sana, Faqih mengasah kemampuan bahasa Arab dan ilmu nahwu. Syekh Kholil melihat potensi besar dalam diri muridnya ini, yang kemudian menjadi bekal penting sebelum melangkah ke panggung dunia.

Tidak salah kalau kemudian, KH Mohammad Faqih Maskumambang Faqih masyhur sebagai seorang ulama besar, baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa. KH Mohammad Faqih Maskumambang menguasai berbagai disiplin ilmu agama, seperti tafsir, mantiq, balaghah, tauhid, ushul fikih, dan lain sebagainya. 

Salah satu karya penting beliau adalah sebuah buku ilmu falak berjudul Al-Mandzumah Al-Dailah fi Awaili Al-Asyur Al-Qamaraiyah, yang membahas ilmu perbintangan atau falak.

Di bawah kepemimpinan KH Mohammad Faqih Maskumambang, Pesantren Maskumambang berkembang pesat. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan agama yang terkenal, menarik santri dari berbagai pelosok Jawa dan Nusantara. KH Mohammad Faqih Maskumambang juga turut berkontribusi dalam berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) bersama KH. Hasyim Asy'ari, di mana beliau menjabat sebagai salah satu wakilnya. Menurut Dennis Lombard, pada abad ke-19 hingga ke-20, Pesantren Maskumambang menjadi salah satu tempat pengkajian agama Islam yang sangat terkenal di Gresik dan Nusantara.

Mengarungi Samudera Menuju Pusat Dunia

KH Mohammad Faqih Maskumambang bukanlah ulama yang hanya berdiam diri. Beliau aktif menjalin komunikasi dengan ulama internasional yang datang ke Mekkah. Beliau mengumpulkan kredensi intelektual (ijazah) dari berbagai penjuru, mulai dari Maroko hingga Damaskus. Kekayaan sanad ini terekam abadi dalam kitab bertajuk Ghayah al-Amani fi Asanid al-Syekh Faqih bin ‘Abd al-Jabbar al-Maskumbani. Habib Salim bin Jindan, seorang pencatat sejarah ulama, secara khusus menyebutkan keistimewaan kitab sanad ini. Hal ini membuktikan bahwa pengakuan terhadap kealiman KH Mohammad Faqih Maskumambang tidak hanya datang dari muridnya, tetapi juga dari sesama ulama besar.

Setelah kembali ke tanah air, KH Mohammad Faqih Maskumambang memberikan kontribusi nyata melalui karya tulis. Beliau adalah sosok langka yang menguasai sains Islam sekaligus teologi. Dalam kitab Manzhumah al-Daliyyah, KH Mohammad Faqih Maskumambang membedah kerumitan ilmu falak untuk menentukan waktu qamariyah. Pengetahuan ini sangat krusial bagi kehidupan beragama umat Islam di Nusantara.

Namun, sumbangsih terbesarnya mungkin terletak pada kitab Al-Nushush al-Islamiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah. Melalui karya ini, KH Mohammad Faqih Maskumambang berdiri tegak membela ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Beliau memberikan argumen-argumen cerdas untuk menolak pengaruh Wahhabisme yang mulai merambah ke pelosok desa. Bagi beliau, menjaga tradisi bukan berarti tertinggal, melainkan merawat akar agar pohon tetap kokoh berdiri.

Tahun 1937 menjadi tahun duka bagi masyarakat Gresik. Sang ulama besar mengembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di Maskumambang. Namun, api perjuangannya tidak padam. Putranya, KH Ammar bin Faqih, melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren dengan produktivitas yang sama. 

KH. Ammar melahirkan karya-karya seperti al-Rudud wa al-Nawadir dan al-Nur al-Mubin. Hingga hari ini, nama KH Mohammad Faqih Maskumambang tetap harum. KH Mohammad Faqih Maskumambang bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol konsistensi seorang intelektual dalam menjaga kemurnian ajaran di tengah perubahan zaman. (*)