Menjelajahi Boven Digoel, Tempat Belanda Membuang Para Pembangkang
Dari Mas Marco, Sjahrir, sampai Bung Hatta, pernah diasingkan ke Rimba Papua ini.
Boven Digoel adalah kamp pengasingan politik yang didirikan Pemerintah Kolonial Belanda di hulu Sungai Digoel, Papua, pada tahun 1927. Tempat ini awalnya dibangun untuk mengasingkan orang-orang yang dianggap terlibat dalam pemberontakan komunis di Banten dan Sumatra Barat pada tahun 1926-1927. Tetapi kemudian digunakan pula untuk membuang tokoh-tokoh pergerakan nasional dari berbagai organisasi, seperti Mohammad Hatta (Bung Hatta), Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, dan Mas Marco Kartodikromo.
Mereka sebenarnya diasingkan bukan karena melakukan kejahatan, melainkan karena kolonial Pemerintah Belanda menganggap aktivitas politik mereka mengancam ketertiban dan kekuasaan Belanda. Dengan menempatkan mereka ribuan kilometer dari pusat pergerakan, Belanda berusaha memutus hubungan mereka dengan dunia politik sekaligus mengendalikan gagasan dan gerakan anti-kolonial.
Boven Digoel berada di kawasan pedalaman Papua yang panas, lembap, terpencil, dan dikelilingi hutan lebat serta sungai-sungai. Kondisi alam ini membuat kehidupan para tahanan sangat berat di mana malaria menjadi salah satu ancaman utama, sementara mereka juga menghadapi TBC (tuberkolosis), penyakit kulit, kekurangan gizi, dan berbagai penyakit tropis.
Ancaman tidak hanya datang dari penyakit. Sungai di sekitar kamp dipenuhi buaya, sementara hutan dan jarak yang ekstrem membuat pelarian nyaris mustahil. Beberapa tahanan bahkan mengalami gangguan mental akibat isolasi, ketakutan, dan kehidupan yang monoton selama bertahun-tahun.
Mempelajari Boven Digoel penting karena tempat ini menunjukkan bahwa kolonialismem tidak hanya bekerja melalui senjata dan kekerasan fisik, tetapi juga melalui pengasingan alias kekerasan mental.
Di zaman ini pun, mereka yang dianggap mengancam kekuasaan masih rawan ditangkap dan dipenjara seenaknya. Benar-benar murid kolonial Belanda yang khatam.
Kisah-kisah tentang Boven Digoel telah ditulis pula Koesalah Soebagyo Toer dalam bukunya "Tanah Merah yang Merah" dan diterbitkan oleh Penerbit Pataba dan tersedia di Warung Sastra. (*)
Editor : S. Anwar