Kisah Pilu Anhar Gonggong Kehilangan 20 Anggota Keluarga
Nama Anhar Gonggong (lahir 14 Agustus 1943) dikenal luas di penjuru negeri sebagai salah satu sejarawan dan akademikus paling terkemuka di Indonesia. Analisisnya yang tajam mengenai periode kolonial dan pascakemerdekaan kerap menjadi rujukan penting bangsa.
Namun, di balik kedalaman ilmunya, sejarawan senior ini menyimpan luka masa kecil yang teramat dalam akibat kekejaman penjajahan.
Anhar Gonggong adalah salah satu saksi bisu sekaligus korban dari dinginnya genosida yang dilakukan oleh pasukan Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Raymond Westerling di Sulawesi Selatan pada medio 1946 hingga 1947.
Tragedi Berdarah Kampanye Sulawesi Selatan
Hanya dalam kurun waktu sekitar tiga bulan—dari Desember 1946 hingga Februari 1947—tanah Sulawesi Selatan bersimbah darah. Atas nama "penumpasan pemberontakan", pasukan khusus Belanda menyisir desa-desa dan membantai ribuan nyawa tanpa ampun.
Di antara ribuan korban yang berjatuhan, keluarga inti Anhar Gonggong menjadi sasaran utama.
"Ayah saya dibunuh bersama dua kakak saya. Satu kakak dikubur bersama ayah, yang lain di kota berbeda, Parepare," kenang Anhar dengan pilu.
Ayah Anhar, Andi Pananrangi, adalah mantan raja dari sebuah kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, yakni Kerajaan Alitta. Sebagai seorang bangsawan dan pemimpin lokal, Andi Pananrangi sudah lama masuk dalam daftar hitam militer Belanda dan dicap sebagai musuh utama karena konsistensinya melawan kolonialisme.
Kehilangan 20 Anggota Keluarga di Usia 3 Tahun
Saat badai pembantaian itu melanda, Anhar yang merupakan anak bungsu baru menginjak usia 3 tahun. Di usia yang masih sangat belia, ia belum sepenuhnya mengerti mengapa ia dan ibunya harus berlari mengungsi ke tempat aman ketika ayahnya ditangkap secara paksa dalam Kampanye Sulawesi Selatan tersebut.
Dampak kekejaman pasukan Westerling ternyata melumat hampir seluruh garis keturunan keluarganya.
"Paman saya, sepupu juga dibantai. Kalau dihitung secara keseluruhan di lingkungan keluarga dekat, ayah, kakak, paman, sepupu, mungkin sampai 20-an orang," ungkap Anhar.
Misteri Angka Korban Westerling
Hingga hari ini, jumlah pasti korban pembantaian Westerling masih memicu perdebatan sejarah antarkempar. Pemerintah Indonesia mencatat sekitar 40.000 jiwa rakyat sipil tewas dibantai dalam operasi pembersihan tersebut.
Di sisi lain, versi resmi pemerintah Belanda hanya mengakui angka sekitar 3.000 korban jiwa. Sementara sang jagal, Raymond Westerling, secara sinis sempat mengklaim dalam memorandumnnya bahwa korban tewas 'hanya' berjumlah 600 orang.
Bagi Anhar Gonggong, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik di buku sejarah. Setiap digitnya adalah tetesan darah, air mata, dan hilangnya pelukan seorang ayah. Kepedihan masa lalu inilah yang kemudian menempa dirinya menjadi seorang sejarawan yang gigih menyuarakan kebenaran, agar bangsa Indonesia tidak pernah lupa pada harga mahal dari sebuah kemerdekaan. (*)
Editor : S. Anwar