Sariamin Ismail, Pelopor Novelis Perempuan Indonesia
Catatan sejarah sastra Indonesia kerap didominasi kaum pria. Namun, pada dekade 1930-an, seorang perempuan asal Pasaman Barat dengan gagah berani mendobrak pintu literasi Nusantara. Ia adalah Sariamin Ismail.
Lahir dengan nama Basariah di Sinuruik, Talamau, Pasaman Barat pada 31 Juli 1909, Sariamin memahat namanya dengan tinta emas sebagai novelis perempuan pertama di Indonesia. Melalui novel debutnya, Kalau Tak Untung (Balai Pustaka, 1934), ia membuka jalan bagi generasi penulis perempuan di tanah air. Sepanjang hidupnya hingga wafat pada 15 Desember 1995, ia dikenal sebagai perpaduan langka antara pendidik tangguh, jurnalis vokal, politisi, dan sastrawan yang produktif.
Bakat Sejak Kecil dan Keberanian Menentang Arus
Bakat menulis Sariamin sudah terlihat sejak usia sepuluh tahun. Saat bersekolah di Meisjes Normaal School (MNS) Padang Panjang, ia kerap menjuarai lomba mengarang. Begitu lulus, ia mengabdikan diri sebagai guru dan berpindah-pindah tugas, mulai dari Bengkulu, Matur, hingga Lubuksikaping.
Sariamin dikenal sebagai sosok yang berprinsip tegas. Saat menjadi kepala sekolah di Lubuksikaping, ia sempat dihukum turun pangkat dan dipindahkan ke Bukittinggi karena berani menentang pengawas sekolah demi mengalihkan anggaran meja-kursi untuk membeli alat dapur sekolah yang dinilainya lebih mendesak bagi murid perempuan.
Bergerak Lewat Pena Vokal "Selasih"
Di Bukittinggi dan Padang Panjang, ruang gerak Sariamin justru semakin luas. Ia aktif memimpin organisasi pergerakan wanita seperti Jong Islamieten Bond (JIB) dan Serikat Kaum Ibu Sumatra (SKIS). Ia juga mulai menulis untuk majalah perempuan Soeara Kaoem Iboe Soematra dan Harian Persamaan.
Lewat tulisan-tulisannya, Sariamin vokal mengecam praktik poligami dan mengkritik ketidakadilan gaji bagi guru perempuan. Kritiknya yang tajam membuat ia diincar oleh Politieke Inlichtingen Dienst (PID)—intelijen politik Hindia Belanda. Demi menghindari penangkapan, ia menggunakan banyak nama samaran, seperti Seleguri, Sri Gunung, hingga yang paling melegenda: Selasih.
Di bawah bayang-bayang intaian intel Belanda itulah, novel Kalau Tak Untung lahir pada tahun 1933 dan diterbitkan oleh Balai Pustaka setahun kemudian. Novel ini mendobrak tren sastra zaman itu karena tidak lagi berfokus pada pertentangan adat kaum tua-muda, melainkan menyoroti keteguhan hati manusia menghadapi garis nasib, dengan latar belakang karakter keluarga miskin pedesaan.
Jadi Anggota Parlemen dan Mengabdi di Tanah Riau
Aktivitas politiknya membuat Sariamin dipaksa berhenti mengajar oleh Belanda pada tahun 1939. Babak baru hidupnya dimulai saat ia menikah pada tahun 1941 dan ikut suaminya pindah ke Teluk Kuantan, Riau.
Melihat pendidikan di Riau yang masih tertinggal, ia mendirikan Sekolah Guru Perempuan (Meisjes Vervolg School) pertama di sana pada tahun 1942. Pasca-kemerdekaan, ketokohannya membawa Sariamin terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) wilayah Riau pada tahun 1947.
Hingga masa tuanya di Pekanbaru, jemarinya tidak pernah berhenti menulis. Ia terus melahirkan antologi puisi, cerita anak, hingga novel terakhirnya Kembali ke Pangkuan Ayah (1986). Sariamin Ismail telah membuktikan bahwa dari pedalaman Pasaman Barat, seorang perempuan mampu mengguncang dunia literasi dan mencatatkan namanya abadi dalam sejarah bangsa. (*)
Editor : Bambang Harianto