Benny Moerdani Sang Maestro Intelijen di Era Orde Baru
Dalam konstelasi politik dan militer Indonesia masa Orde Baru, nama Jenderal TNI (Purn.) Leonardus Benjamin Moerdani—atau yang lebih karib disapa Benny Moerdani—adalah legenda yang penuh dengan teka-teki. Lahir di Cepu pada 2 Oktober 1932 dan wafat pada 29 Agustus 2004, Benny adalah sosok bertangan dingin yang menjadi salah satu pilar paling kukuh penopang kekuasaan Presiden Soeharto.
Dikenal luas dengan julukan "The Unsmiling General" (Jenderal yang Jarang Tersenyum), ia merupakan maestro intelijen yang memegang kendali atas stabilitas nasional sebagai Panglima ABRI (1983–1988) dan Menteri Pertahanan dan Keamanan (1988–1993).
Palagan Militer dan Kejeniusan Operasi Sandera "Woyla"
Karier militer Benny Moerdani ditempa di berbagai medan pertempuran sengit. Sebagai perwira pasukan khusus, nama Benny mulai mencuri perhatian dalam Operasi Naga saat pembebasan Irian Barat, sebuah aksi nekat menerjunkan pasukan di belantara rimba yang membuatnya dianugerahi Bintang Sakti oleh Presiden Soekarno.
Namun, reputasi internasionalnya benar-benar diuji pada akhir Maret 1981. Sebagai Kepala Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrad), Benny memimpin langsung operasi pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia DC-9 "Woyla" yang dibajak teroris di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand.
"Hanya dalam waktu tiga menit, operasi kilat yang dipimpin Benny Moerdani berhasil melumpuhkan seluruh teroris tanpa mengorbankan penumpang. Operasi ini menempatkan Indonesia di jajaran elit dunia dalam penanganan antiteror."
Gaya Kepemimpinan Radikal dan Bayang-Bayang Kontroversi
Ketika ditunjuk Soeharto menjadi Panglima ABRI pada tahun 1983, Benny langsung melakukan perombakan radikal. Ia dikenal sebagai sosok yang:
Merampingkan Struktur Militer: Memangkas birokrasi ABRI agar menjadi kekuatan tempur yang lebih efisien, taktis, dan cepat merespons ancaman.
Menjaga Stabilitas Tanpa Kompromi: Benny memegang prinsip bahwa stabilitas negara adalah harga mati demi jalannya pembangunan ekonomi Orde Baru.
Ketegasannya yang tanpa kompromi ini pulalah yang membuat namanya tak lepas dari berbagai peristiwa berdarah. Di bawah masa kepemimpinannya sebagai Panglima, terjadi Tragedi Tanjung Priok (1984), sebuah bentrokan hebat antara massa dan aparat keamanan yang hingga kini menyisakan catatan kelam dalam sejarah penegakan hak asasi manusia di Indonesia.
Retaknya Hubungan dengan Soeharto: Berani Menolak Tabu
Sebagai orang kepercayaan, Benny adalah satu dari sedikit jenderal yang berani menyampaikan pandangan jujur kepada Soeharto. Memasuki akhir tahun 1980-an, Benny melakukan hal yang dianggap tabu oleh lingkaran dalam Istana: ia menegur Soeharto terkait aktivitas bisnis anak-anaknya yang dinilai bisa menggerogoti legitimasi sang Presiden.
Keberanian Benny harus dibayar mahal. Hubungan politik kedua tokoh kuat ini mendadak renggang dan mendingin. Hanya beberapa hari sebelum Sidang Umum MPR 1988—di mana Soeharto kembali dipilih menjadi Presiden—Benny secara mengejutkan dicopot dari jabatannya sebagai Panglima ABRI.
Meski sempat "diparkir" sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan hingga tahun 1993, pengaruh politik sang maestro intelijen ini perlahan mulai ditepikan dari ring satu kekuasaan hingga kejatuhan rezim Orde Baru pada 1998.
Benny Moerdani menutup mata selamanya pada tahun 2004 karena sakit. Ia pergi dengan membawa sejuta rahasia negara, meninggalkan legasi berupa cetak biru intelijen modern Indonesia yang kokoh sekaligus kontroversial. (*)
Editor : S. Anwar