Jejak Kelam Demo Buruh Kereta Api Soerabaia 1923

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Demo Buruh Kereta Api Soerabaia 1923
Demo Buruh Kereta Api Soerabaia 1923
grosir-buah-surabaya

Pada 9 Mei 1923, tepat 10 hari menjelang Lebaran 1923, sekitar 8000 hingga 10.000 buruh kereta api menggelar aksi mogok kerja di Jawa, yang berpusat di Surabaya dan Semarang.

Aksi mogok massal kaum buruh yang tergabung dalam serikat buruh Vereniging van Spoor en Tramweg-personeel (VSTP) dipicu oleh pemotongan gaji dan penghapusan tunjangan oleh pemerintah kolonial.

Kebijakan ekonomi yang menekan dari perusahaan kereta api memicu kemarahan buruh Vereniging van Spoor en Tramweg-personeel (VSTP). Serikat buruh menuntut perbaikan kesejahteraan dan pengembalian tunjangan mereka, namun negosiasi dengan manajemen buntu.

Vereniging van Spoor en Tramweg-personeel (VSTP) sendiri awalnya didirikan 14 November 1908 di Semarang oleh C.J. Rijcken, seorang pegawai kereta api yang merasa hak-hak ekonominya ditekan oleh perusahaan. Ia kemudian mengumpulkan 63 rekan seprofesinya untuk membentuk wadah perjuangan formal.

Serikat ini awalnya bersifat eksklusif. Anggotanya hanya para pegawai kulit putih yang menduduki jabatan tinggi (seperti administrasi dan pengawas) dan mengutamakan jalur negoisasi kepada pihak manajemen perusahaan. Sebelum akhirnya buruh pribumi mulai diizinkan bergabung di tahun 1910.

Kehadiran mereka dengan cepat menggeser dominasi para pegawai Eropa karena jumlah buruh pribumi jauh lebih banyak.

Sejak Semaun masuk pada tahun 1916, arah perjuangan VSTP berubah total menjadi sangat radikal, progresif, dan fokus melawan ketidakadilan ekonomi.

Sebenarnya pada 1 Maret 1916, buruh kereta api di Soerabaia telah bergerak, membuat Batalyon Infanteri KNIL ke-13 dari Malang mengirimkan 125 anggotanya, di bawah komando Kapten Reeman, ke Soerabaia pada 2 Maret 1923.

Pada rapat Vereniging van Spoor en Tramweg-personeel (VSTP) di Semarang, 6 Mei 1923, Semaoen menyatakan bahwa pemogokan harus dimulai saat ia dan pemimpin-pemimpin VSTP lainnya ditangkap. Dan benar saja, dua hari kemudian Semaoen ditangkap polisi di rumahnya di Semarang.

Setelah Semaoen tertangkap, pemogokan besar pun terjadi di seluruh Jawa pada 9 Mei 1923 dan berpusat di Semarang-Soerabaia.

Imbasnya, jalur transportasi logistik dan kereta penumpang di seluruh Jawa, terutama di sektor Jawa Tengah dan Jawa Timur, berhenti total. Sehingga perusahaan-perusahaan kereta api mengalami kerugian karena komoditas perkebunan gagal diangkut ke pelabuhan.

Pemerintah kolonial dan manajemen perusahaan merespons dengan tangan besi. Ribuan buruh bumiputera yang ikut mogok kerja langsung dipecat seketika dan diusir paksa dari rumah dinas perusahaan.

Tekanan yang kuat dari pihak pemerintah dan perusahaan-perusahaan perkeretaapian ini membuat gerakan pemogokan kehilangan momentum dan mereda menjelang akhir Mei 1923. (*)

*) Source : Soerabaiacityheroes