Sapardjo, Jenderal TNI yang Jadi Penolong Para Janda Pahlawan
Nama Mayor Jenderal Tentara Nasional Indonesia (Mayjen TNI) Sapardjo mungkin kerap diasosiasikan sebagai salah satu motor penggerak mesin politik di era 1970-an. Namun, sejarah mencatat bahwa pria kelahiran 15 Februari 1924 ini memiliki spektrum pengabdian yang unik: ia adalah seorang ahli intelijen psikologis di medan tempur yang kelak melunakkan hatinya demi menjadi benteng kemanusiaan bagi masyarakat kecil.
Dipercaya oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet Pembangunan III (1978–1983), suami dari Endang Suparti ini membawa pendekatan baru dalam dunia kesejahteraan sosial—sebuah konsep yang memadukan kedisiplinan militer dengan empati yang mendalam.
Pakar Perang Saraf Kemenhan dan Operasi Militer di Sumatra
Karier militer Sapardjo dimulai saat fajar kemerdekaan menyingsing pada tahun 1945 dengan pangkat Letnan I. Hebatnya, di masa-masa awal republik, ia tidak hanya bertempur di garis depan fisik, melainkan juga dipercaya mengelola strategi psikologis yang rumit.
Sepanjang tahun 1947 hingga 1949, lulusan Taman Dewasa (MULO) ini menjabat sebagai Kepala Staf Psychological Warfare (Perang Saraf) di Kementerian Pertahanan. Keahliannya dalam membaca peta psikologi massa dan memecah konsentrasi lawan di meja intelijen ini menjadi modal besar dalam karier kepemimpinannya di masa depan.
Ketika bergolak krisis daerah di Sumatra Barat, Sapardjo ditunjuk menjadi Wakil Komandan Komando Satuan Tugas (Wadan R.T.P. II/Diponegoro) sekaligus merangkap Staf Umum I Kodam 17 Agustus dalam Operasi 17 Agustus.
Setelah menyelesaikan pendidikan tertingginya di Seskoad pada tahun 1969, karier militernya harus mengalami percepatan masa pensiun pada tahun 1977 dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI. Langkah ini diambil karena ia memegang posisi sipil yang sangat strategis sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Golkar dan dicalonkan menjadi anggota legislatif dalam Pemilu 1977.
Visi Mensos: Lindungi Pejuang, Janda Pahlawan, dan Kaum Difabel
Begitu namanya resmi diumumkan oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Sosial pada 29 Maret 1978, jenderal ahli perang saraf ini langsung melontarkan visi kemanusiaan yang progresif dan menyentuh hati. Baginya, Departemen Sosial adalah garda terdepan negara dalam menghargai jasa para kesatria bangsa.
"Ditinjau dari kebutuhan masyarakat sekarang ini, fungsi Departemen Sosial itu penting sekali. Dalam menghadapi masa regenerasi, kita harus menaruh perhatian dan pembinaan secara khusus terhadap mereka yang telah berkorban bagi adanya negara ini. Baik tokoh-tokoh perjuangan, para penderita cacat, maupun janda-janda para pahlawan," tegas Sapardjo saat itu.
Sebagai menteri, ia sangat peka terhadap ekses negatif pertumbuhan ekonomi kala itu. Ia menyoroti tajam masalah anak putus sekolah (drop-out) serta benturan budaya akibat kemajuan zaman antara kehidupan Timur dan Barat.
Bagi Sapardjo, kunci kesejahteraan Indonesia dimulai dari kekuatan moral di desa-desa. Menurut konsepsinya, kehidupan sosial di desa-desa sebetulnya sudah memiliki modal gotong royong yang kuat, tinggal dikonsolidasi dengan penekanan pada peningkatan kesejahteraan pribadi serta pendewasaan pengaruh lingkungan sosial berdasarkan mandat GBHN.
Akhir Hayat Sang Jenderal Kemanusiaan
Mayjen TNI Sapardjo mengembuskan napas terakhirnya pada 10 April 2001 dalam usia 77 tahun. Ia pergi dengan meninggalkan cetak biru kebijakan sosial yang menonjolkan usaha-usaha kemanusiaan murni di atas segalanya.
Atas segala jasa besarnya di medan perang psikologis, panggung organisasi, dan dunia sosial, ia dimakamkan sebagai penghormatan tertinggi di Taman Makam Pahlawan, Jakarta. Kisah hidupnya menjadi bukti nyata bahwa seorang prajurit tangguh bisa melunakkan ketegasannya demi memeluk dan menyejahterakan rakyat yang membutuhkan. (*)
Editor : S. Anwar