Dayak Bakumpai, Pengkhianat Tradisi atau Penjaga Identitas Sejati
Sekarang ini, banyak giringan keyakinan yang dimasukkan ke dalam Dayak bahwa berbeda keyakinan menjadikan orang dayak saling tuding siapa dayak siapa bukan. Dan giringan seperti tersebut yang dibawa oleh orang luar yang menyamar masuk ke dalam Suku Dayak dengan memasukkan giringan rasisme, phobia agama yang membuat mengucilkan satu sama lain antar orang dayak.
Karena itu, bahasan ini akan menggali sejarah orang Dayak sedalam-dalamnya agar tahu siapa mereka dan siapa yang memasukkan isu-isu perpecahan dalam orang dayak ini.
Dayak Bakumpai. Siapa mereka? Sebuah sub-etnis Dayak yang berani berbeda. Mereka adalah bagian dari Dayak Ngaju, suku asli Kalimantan, yang memilih jalan Islam. Identitas ini menempatkan mereka dalam posisi unik, sering kali dipandang sebagai jembatan antara budaya Dayak, Banjar dan Melayu. Namun, narasi ini lebih dari sekadar perpaduan dua budaya. Ini adalah kisah tentang pilihan, perjuangan, dan identitas yang terus bergerak.
Suku Dayak Bakumpai baru diakui secara terpisah pada sensus tahun 2000, dimana mereka mencakup 7,51�ri populasi Kalimantan Tengah. Sebelumnya, mereka dikelompokkan sebagai bagian dari suku Dayak maupun Banjar dalam sensus tahun 1930.
Dayak Bakumpai tidak tinggal diam di satu tempat. Mereka adalah kaum pengembara sejati, mencari kehidupan dari hulu ke hilir sungai. Pusat mereka di Marabahan, Kalimantan Selatan, menjadi titik awal penyebaran ke berbagai penjuru. Kita dapat menemukan jejak mereka di sepanjang Sungai Barito dan Sungai Kahayan, bahkan hingga ke Sungai Mahakam di Kalimantan Timur dan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.
Penyebaran ini bukanlah perjalanan yang mudah. Dayak Bakumpai harus menembus hutan yang masih buas, berjalan kaki, dan mendayung di sungai yang deras. Ditambah lagi, ancaman ngayau (ritual potong kepala orang Dayak) dari suku lain menjadi cerita nyata yang harus mereka hadapi. Kisah-kisah ini bukan sekadar sejarah, melainkan bukti ketangguhan luar biasa dari leluhur Dayak Bakumpai.
Apa yang mendorong migrasi besar-besaran ini? Jawabannya: perang!!!!
Penyebaran Dayak Bakumpai adalah akibat terlibatnya Dayak Bakumpai dalam Perang Banjar dan Perang Barito melawan VOC. Dayak Perpindahan Dayak Bakumpai ke Mahakam, ceritera dari Ni Galuh di Long Iram yang menyebutkan bahwa fase awal Dayak Bakumpai ke Kalimantan Timur karena tekanan dan situasi Perang Barito tahun 1863.
Banyak Dayak Bakumpai bersama orang Banjar di Puruk Cahu, Muara Teweh, dan Marabahan menyingkir ke Mahakam untuk menghindari perang yang berkecamuk itu.
Dayak Bakumpai yang terlibat dalam Perang Barito terutama sesudah pejuang Bakumpai bersama Dayak Siang dan Dayak Ot Danum menenggelamkan kapal perang Belandan Onrust, sejak itu belanda memburu tokoh pejuang itu antara lain Temanggung Surapati dan Panglima Wangkang, Demang Lehman dan tokoh2 lainnya bahkan baik dari kalangan turunan dari luar seperti para Habaib yang berada di sisi perlawanan perang banjar.
Pencarian tanpa batas oleh Belanda inilah yang meresahkan penduduk dan akhirnya penduduk memilih menyingkir ke Mahakam, khususnya Long Iram. Alasan yang sama juga menyebabkan orang Bakumpai menyebar ke daerah Kotawaringin di Kalimantan Tengah.
Perjalanan migrasi orang Bakumpai ke Kalimantan Timur hulu sungai Mahakam melalui Pegunungan Muller sungguh sulit, berjalan kaki, berkayuh di sungai, melalui alam yang masih buas, dan adanya ngayau merupakan ceritera nyata yang mereka alami selama pengembaraan itu.
Jauh sebelumnya. Karena ada perselisihan dengan Sultan Muhammad Seman, Temanggung Ecot, anak Temanggung Surapati yang kawin dan berdiam selama 10 tahun di Mahakam Hulu, mengumpulkan hasil-hasil hutan. Ia adalah satu satunya anggota keluarga Surapati yang tinggal di luar Dusun Hulu. Kehadirannya di Mahakam Hulu menimbulkan problema baru bagi Belanda, karena ia menjadi seorang yang amat berpengaruh di kalangan suku Dayak setempat.
Secara genealogis dan bahasa, Dayak Bakumpai adalah bagian dari Dayak Ngaju. Namun, kita akan melihat perbedaan mencolok dalam budaya dan tradisi mereka. Banyak Dayak Bakumpai mengadopsi bahasa, budaya, hukum adat, dan arsitektur Banjar maupun melayu. Bahkan, beberapa mengidentifikasi diri lebih dekat dengan budaya Banjar atau Melayu.
Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan penting: Apakah mereka masih Dayak?
Tentu saja. Perubahan budaya tidak menghapus akar genetis. Suku Dayak Bakumpai adalah bukti bahwa identitas itu dinamis, tidak statis. Mereka menunjukkan bagaimana sebuah suku dapat beradaptasi dan berkembang tanpa harus meninggalkan sepenuhnya jati diri leluhur mereka.
Dayak Bakumpai adalah suku yang mampu menjadi jembatan antara dua dunia: dunia Dayak yang kuat dengan tradisi nenek moyang, dan dunia Islam yang terus berkembang. Kehadiran mereka mematahkan stigma bahwa Dayak harus identik dengan satu kepercayaan atau budaya tertentu. Suku Bakumpai membuktikan bahwa menjadi Dayak dan menjadi Muslim bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari koin yang sama.
Peran Dayak Bakumpai dalam sejarah sering kali terabaikan. Padahal, mereka memiliki pahlawan yang gigih. seperti Temanggung Surapati, seorang tokoh pejuang Bakumpai yang bersama pejuang lain menenggelamkan kapal perang Belanda, "Onrust", di Sungai Barito dan Panlima Wangkang, Panglima Batur dan tokoh-tokoh lainnya
Kisah heroik Dayak Bakumpai ini membuat Belanda murka dan memburu Surapati tanpa ampun. Tekanan inilah yang membuat penduduk memilih menyingkir ke daerah yang lebih aman, seperti Mahakam, Kotawaringin Timur, Kalbar dan bahkan sampai luar kalimantan. Ini bukan sekadar sejarah, ini adalah kisah yang menunjukkan bahwa Suku Dayak Bakumpai adalah suku pejuang, yang rela berkorban demi kebebasan.
Suku Dayak Bakumpai bukan hanya sekadar nama dalam sensus penduduk. Mereka adalah perwujudan dari sejarah yang bergejolak, identitas yang lentur, dan semangat yang tidak pernah padam. Mereka menantang cara pandang kita tentang apa artinya menjadi sebuah suku, dan mengajarkan kita bahwa adaptasi dan ketangguhan bisa menjadi kekuatan terbesar sebuah suku.
Sumber :
Hadi, R.Tumbang Samba Kota Pahlawan di Tanah Dayak. CV IRDH. (2019)
Rizali, H. Mengungkap Peran Orang Dayak Bakumpai Memelopori Perdagangan Ke
Sungai Katingan. (2015)
Sadzali, A. Perjumpaan Islam Tradisi Dan Dayak Bakumpai. (2006)
Susanto, N. N. Nama Perang Barito Berdasarkan Bukti Arkeologis (2019)
Editor : Bambang Harianto