Kiai Asad Menjadi Delapan dalam Satu Waktu
Bayangkan ini... Jam 20.30 KH As’ad berangkat dari rumah. Jam 22.30, Kiai As’ad sudah pulang. Di antara dua jam itu, KH As’ad menghadiri 8 walimah haji di kota berbeda, ceramah, makan jamuan, foto bareng tuan rumah. Padahal jarak pulang-pergi satu kota saja butuh 2 jam. Akal kita bilang mustahil. Tapi bagi kekasih Allah, waktu bukan penjara.
Kiai As’ad As’ad adalah putra pertama dari KH R Syamsul Arifin (Raden Ibrahim) yang menikah dengan Siti Maimunah. Kiai As’ad As’ad lahir pada tahun 1897 di perkampungan Syi’ib Ali Makkah dekat dengan Masjidil Haram. Garis kerurunannya berasal dari Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri.
KH Fawaid mengisyaratkan bahwa KH As’ad memang bukanlah ulama sembarangan. Kisah itu terjadi pada saat Kiai Mujib (teman KH As’ad) diajak Kiai As’ad menghadiri delapan acara walimah haji yang berada di luar kota.
Keduanya pun berangkat dari rumah, sekitar pukul 20.30 WIB. Namun anehnya, Kiai As’ad Mujib baru merasakan keajaiban yang dialaminya setelah kembali ke Sukorejo. Dia kaget lantaran delapan lokasi acara walimah haji yang didatangi oleh KH As’ad ternyata hanya ditempuh dalam waktu dua jam.
“Padahal, perjalanan pulang pergi aja memerlukan waktu dua jam, sementara mereka harus mengunjungi delapan kali acara yang tempatnya masing-masing sangat berjauhan. Ini belum lagi dihitung waktu Kiai As’ad memberi ceramah dan jamuan makan, yang tentu saja memakan waktu tidak sebentar. Ini ajaib. Mana mungkin perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam plus semua acara yang tempatnya saling berjauhan dan memakan waktu berjam-jam itu, bisa dilakukan hanya dengan dua jam?” ungkap KH Fawaid.
KH As’ad Mujib pun mengemukakan kebingungannya itu kepada sopir Kiai As’ad, H Abdul Aziz.
“Iya..ya, kenapa bisa begitu?” katanya sambil berulang kali melihat jam tangannya untuk meyakinkan diri bahwa saat itu memang baru pukul 22.30 WIB.
“Usut punya usut, seminggu kemudian. Di Sukorejo, Haji Aziz akhirnya memperoleh info mengenai keributan yang hampir saja terjadi di antar pemilik delapan acara walimah tersebut karena masing-masing ngotot didatangi kiai pada saat yang bersamaan. Akhirnya, mereka sama-sama heran, sebab masing-masing mempunyai bukti berupa foto ketika kiai berada di rumah-rumah mereka,” imbuh KH Fawaid.
Peristiwa seperti itu tampaknya juga pernah dialami sendiri oleh Kiai As’ad ketika muda. Dia heran, ada kiai yang menjadi imam salat Jumat di tiga masjid dalam waktu yang bersamaan. Menurut kisah, KH As’ad bermakmum saat salat Jumat dengan imam Kiai Asadullah di Masjid Besuki.
Bupati Situbondo, yang mendengar hal itu, membantah dan sambil ngotot mengatakan bahwa Kiai Asadullah hari itu mengimmi salat Jumat di Situbondo, bahkan sang bupati mengaku berdiri tepat di belakangnya. Penghulu Asembagus yang kebetulan mendengar pertikaian itu, malah menimpali bahwa Kiai Asadullah menjadi imam masjid di daerahnya.
Hal itu mengingatkan KH As’ad pada dawuh (perintah) Habib Hasan Musawa bahwa Kiai Asadullah telah mencapai maqam fana fi adz dzat, bisa menjadi tiga bahkan sepuluh dalam waktu bersamaan. Ilmu yang sama kelak akan dimiliki juga oleh Kiai As’ad.
Itu karomah. Itu bukti, kalau hati sudah "fana" pada Allah, maka hukum dunia bisa dilipat. (*)
Editor : S. Anwar