Wimbo Hardjito, Aktor di Balik Terwujudnya Mimpi Ignasius Jonan
Tanpa Wimbo Hardjito dan Ignasius Jonan, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI jauh dari apa yang kita kenal saat ini. Dua orang non-background perkeretaapian yang masuk ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang saat itu sedang sekarat.
Bisa dibilang, keputusan Sofyan Djalil, Menteri BUMN waktu itu, adalah yang terbaik dalam sejarah. Sofyan Djalil mempertemukan Ignasius Jonan ex-bankir dengan Wimbo Hardjito ex-Indosat.
Kereta api yang waktu itu feodal, tertutup, dan resisten terhadap perubahan mencapai perubahan besar-besaran dari hasil duet Direktur Utama (Ignasius Jonan) dan Direktur Komersial (Wimbo Hardjito) tersebut.
Kalimat Ignasius Jonan yang jadi kompas Wimbo Hardjito selama 5 tahun ialah, "Mau saya cuma satu. Mikirnya itu bukan fokus ke produk tapi ke customer. Titik.”
Sebagai pasangan kerja, keduanya membagi peran sangat apik : Ignasius Jonamenetapkan arah dan Wimbo Hardjito mewujudkannya jadi keputusan operasional yang nyata. Tanpa kerjasama ini, ΚΑΙ mungkin masih jadi olok-olokan hingga saat ini.
Logika Operasional yang Wujudkan Visi CEO dengan Efektif Efisien
Fundamental Wimbo Hardjito adalah setiap keputusan harus menguntungkan KAI dengan cara yang halal dan fair. Yakni merombak toilet dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) vendor Rp 500 juta per unit jadi hanya Rp 12 juta.
Meningkatkan kinerja karyawan dengan menaikkan gaji dari Rp 2,7 juta jadi Rp 25 juta sampai Rp 30 juta per bulan. Dan ekspansi channel dari 40 jadi 4.000 agen, pembelian tiket via website, aplikasi, minimarket, dan sistem boarding pass dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk memberantas calo.
Punya kuasa tidak lantas membuat Wimbo Hardjito berbuat seenaknya. Wimbo Hardjito ingin membeli lokomotif langsung dari pabrik untuk menghindari mark up yang menggila. Tapi sayang, aturan tim internal yang mengharuskan vendor multinasional punya Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) menghambat rencana ini.
Wimbo Hardjito bisa saja marah ke tim dan ubah aturan saat itu juga, tapi dia menerapkan strategi win-win dengan memecah pengadaan lokomotif jadi dua komponen :
Tubuh lokomotif (carbody + mesin): dipesan langsung dari General Electric Transportation di Amerika Serikat.
Bogie (kaki-kaki roda) : dirakit di Indonesia oleh PT Barata Indonesia (BUMN).
Strategi pemecahan yang dilakukan Wimbo Hardjito menghasilkan keuntungan besar untuk banyak pihak termasuk BUMN. PT KAI dapat rangkaian lokomotif berkualitas pabrikan internasional.
Politik lokal teratasi sehingga tidak ada yang sakit hati. PT Barata Indonesia (BUMN) dapat order besar. Persyaratan birokrasi jadi lebih masuk akal, dan gebrakan lainnya yang tidak banyak diekspos media.
Tahun 2014, sebelum Wimbo Hardjito pindah ke PT Perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI), KAI sudah punya struktur baru : Executive Vice President Safety, Health, Environment (EVP SHE). Direktorat khusus keselamatan yang efektif menurunkan 33% angka kecelakaan dalam 2 tahun.
Wimbo Hardjito juga mereaktivasi rute tidur seperti KA Kamandaka (Semarang-Purwokerto) dan sterilisasi 60 stasiun Jabodetabek dengan Stasiun Sudirman sebagai benchmark. (*)
Editor : Bambang Harianto