Hari Asyura dan Taubat Nabi Adam
Banyak riwayat hadis yang menerangkan bahwa salah satu keistimewaan Asyura adalah Allah menerima taubat Nabi Adam. Adam yang sebelumnya menempati surga harus angkat kaki dan turun ke bumi karena tipu daya iblis untuk memakan Syajarah al-Khuld.
رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: هَذَا يَوْمٌ تَابَ اللَّهُ فِيهِ عَلَى قَوْمٍ, فَاجْعَلُوهُ صَلَاةً وَصَوْمًا - يَعْنِي: عَاشُورَاءَ -. وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: هُوَ الْيَوْمُ الَّذِي تِيبَ عَلَى آدَمَ
“Diriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda: ‘Ini adalah hari Allah menerima tobat suatu kaum. Maka jadikanlah hari itu sebagai hari salat dan puasa,’ yaitu hari Asyura. Dan dari Ibnu Abbas r.a., beliau berkata: “Hari itu adalah hari ketika tobat Nabi Adam diterima”.
Pandangan Ulama Tentang Turunnya Nabi Adam ke Bumi
Banyak yang masih bertanya-tanya dan mungkin sebagian malahan menyayangkan tindakan ceroboh Nabi Adam memakan Syajarah al-Khuld yang berujung pada pengusiran beliau beserta anak cucunya dari surga, gumam mereka “Andai Nabi Adam tidak ceroboh mungkin sekarang kita sedang santai di salah satu taman surga”.
Ada juga yang menyinggung status beliau, seharusnya seorang nabi ucapan dan perilakunya menjadi tuntunan dan terjaga dari melakukan dosa. Banyak juga yang memiliki pandangan bijak bahwa turunnya Nabi Adam ke dunia bukan persoalan benar dan salah belaka melainkan sebuah skenario Allah Swt yang ingin menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.
Pandangan Syaikh Wahbah Zuhaili
Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir mencoba menjawab kegelisahan tersebut, beliau lantas menyampaikan tiga kemungkinan jawaban;
Pelanggaran tersebut terjadi sebelum Nabi Adam diangkat menjadi nabi, sedangkan ke-maksum-an(terjaga dari dosa) berlaku setelah kenabian. Atau pelanggaran itu terjadi karena lupa yang seharusnya tidak layak disebut sebuah kesalahan yang bertentangan dengan sifat maksum. Namun Nabi Adam tetap dikatakan bersalah sebab beliau memiliki kedekatan lebih dengan Allah, dikatakan;
حَسَنَاتُ الْأَبْرَارِ سَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِينَ
“Kebaikan-kebaikan orang-orang saleh (al-abrār) dianggap sebagai keburukan bagi orang-orang yang dekat dengan Allah (al-muqarrabīn)”.
Atau, menurut metode para ulama salaf, ayat yang menjelaskan peristiwa tersebut termasuk ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana kisah-kisah lain yang ada dalam Al-Qur’an, yang tidak mungkin dipahami berdasarkan makna lahiriahnya semata. Syaikh Wahbah Zuhaili lantas menyampaikan pandangannya:
وَالرَّاجِحُ لَدَيَّ أَنَّ هَذِهِ الْمُخَالَفَةَ وَقَعَتْ نِسْيَانًا وَسَهْوًا، كَمَا قَالَ جَلَّ وَعَزَّ: ﴿فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا﴾ [طٰهٰ: ١١٥]
“Pendapat yang kuat menurut saya bahwa pelanggaran tersebut terjadi karena lupa dan kekhilafan, sebagaimana firman Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung:"Maka Adam lupa, dan Kami tidak mendapati padanya kemauan yang kuat." (QS. Ṭāhā: 115).
Menyempurnakan Keutamaan Nabi Adamdan Keturunannya.
Semenjak menciptakan Nabi Adam, Allah telah memberi berbagai keutamaan yang tidak dimiliki makhluk lain termasuk malaikat dan iblis. Turunnya Nabi Adam ke dunia tidak lain untuk menambah dan menyempurnakan keutamaan tersebut sehingga kala manusia kembali ke surga akan kembali dalam keadaan yang lebih sempurna lagi. Sebagaimana penjelasan Ibn al-Mubarrod dalam Ma‘ārif al-In‘ām wa Faḍl al-Syuhūr wa al-Ayyām:
ظَهَرَ الْحَسَدُ مِنْ إِبْلِيسَ، وَسَعَى فِي الْأَذَى, فَمَا زَالَ يَحْتَالُ عَلَى آدَمَ حَتَّى تَسَبَّبَ فِي إِخْرَاجِهِ مِنَ الْجَنَّةِ, وَمَا فَهِمَ أَنَّ آدَمَ إِذَا خَرَجَ مِنْهَا كَمُلَتْ فَضَائِلُهُ, ثُمَّ عَادَ إِلَيْهَا أَكْمَلَ مِنْ حَالِهِ الْأَوَّلِ
“Maka muncul rasa dengki dari Iblis. Ia pun berusaha menyakiti dan tak berhenti menipu Adam hingga berhasil mengeluarkan Adam dari surga. Namun, Iblis tidak memahami bahwa keluarnya Adam dari surga justru menyempurnakan berbagai keutamaannya. Kemudian Adam kembali lagi ke surga dalam keadaan yang lebih sempurna daripada keadaannya yang pertama.”
Menunjukkan Kemulyaan Orang Yang Taubat
Salah satu kemuliaan Nabi Adam yang tidak dimiliki sama sekali oleh iblis adalah pengakuan Nabi Adam atas kesalahannya. Dikisahkan bahwa kala Nabi Adam pertama kali menginjakkan kaki di bumi, beliau tak henti-hentinya bertaubat. Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud;
إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مَا قَالَهُ أَبُونَا آدَمُ حِينَ اقْتَرَفَ الْخَطِيئَةَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ, تَبَارَكَ اسْمُكَ, وَتَعَالَى جَدُّكَ, لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ, ظَلَمْتُ نَفْسِي، فَاغْفِرْ لِي, إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
"Kata yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah kata nabi Adam, kala melakukan kesalahan:'Mahasuci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Maha Berkah nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau.'"
Referensi:
1. Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsīr al-Munīr fī al-'Aqīdah wa al-Syarī'ah wa al-Manhaj (Damaskus: Dār al-Fikr; Beirut: Dār al-Fikr al-Mu'āṣir, 1991), jilid 1, halaman 142.
2. Yusuf bin Hasan bin Ahmad bin Hasan Ibn ‘Abd al-Hadi al-Shalihi, Ma‘ārif al-In‘ām wa Faḍl al-Syuhūr wa al-Ayyām, (Suriah: Dār al-Nawādir, cet. 1, 1432 H/2011 M), halaman 66.
3. Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsīr al-Munīr fī al-'Aqīdah wa al-Syarī'ah wa al-Manhaj (Damaskus: Dār al-Fikr; Beirut: Dār al-Fikr al-Mu'āṣir, 1991), jilid 1, halaman 142.
Editor : Bambang Harianto