Keajaiban Jurayj, Bayi yang Lahir di Palestina

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Kelahiran Jurayj
Kelahiran Jurayj
grosir-buah-surabaya

Di sebuah bukit sunyi di tanah Palestina, berabad-abad sebelum kelahiran Al-Masih, berdirilah sebuah shuma'ah—menara peribadatan kecil yang terbuat dari batu dan tanah liat. 

Di dalamnya, seorang pemuda bernama Jurayj menghabiskan siang dan malamnya hanya untuk satu tujuan : tenggelam dalam cinta kepada Sang Pencipta. Baginya, dunia di bawah bukit itu hanyalah kebisingan yang tidak bermakna.

Suatu sore, saat cahaya keemasan matahari mulai meredup, terdengar suara renta memanggil dari kaki menara. 

"Wahai Jurayj, ini ibumu! Turunlah sejenak!"

Jurayj terperanjat dalam shalatnya. 

Di dalam batinnya terjadi pergulatan hebat:

"Ya Tuhanku, ibuku atau shalatku?" 

Ia memilih melanjutkan shalatnya, menganggap berdialog dengan Tuhan adalah segalanya. 

Hari kedua, sang ibu datang lagi, dan Jurayj kembali memilih shalatnya. Hingga pada hari ketiga, setelah panggilannya kembali diabaikan, hati sang ibu teriris. Bukan karena benci, tapi karena rasa rindu yang terabaikan. Beliau menengadahkan tangan ke langit dan berucap :

"Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan Jurayj sebelum Engkau perlihatkan kepadanya wajah wanita-wanita pelacur."

Sebuah doa yang lahir dari luka, melesat menembus awan.

Kehidupan tenang Jurayj terusik ketika kabar tentang kesalehannya menjadi bahan pembicaraan di kota. Kaum Bani Israil yang iri mulai berkomplot. Seorang wanita pesolek yang kecantikannya menjadi buah bibir menantang mereka, "Jika kalian mau, aku akan menjatuhkannya ke dalam dosa."

Wanita itu mendatangi menara Jurayj, menawarkan kecantikan dan kenikmatan dunia, namun Jurayj bahkan tidak meliriknya. 

Gagal menggoda sang zahid, wanita itu justru berbuat serong dengan seorang penggembala kambing di sekitar bukit hingga hamil.  Saat perutnya membesar, ia menunjuk ke atas bukit dengan telunjuk penuh dusta: 

"Bayi ini adalah anak Jurayj, sang ahli ibadah yang kalian puji-puji itu!"

Kemarahan warga meledak seperti badai. Mereka mendatangi bukit, membawa kapak dan batu. Tanpa bertanya, mereka merobohkan menara batu tempat Jurayj bersujud hingga rata dengan tanah. 

Jurayj diseret, dihina, dan dipukuli. Di tengah kerumunan itu, ia melihat wajah-wajah wanita tuna susila yang menontonnya sambil mencemooh. Ia tersenyum tipis, teringat doa ibunya.

"Mengapa engkau tersenyum, wahai pendusta?" teriak mereka.

"Biarkan aku shalat dua rakaat," jawab Jurayj tenang.

Setelah bersujud dengan sangat panjang, Jurayj mendekati bayi yang baru lahir dari wanita itu. Dengan jari telunjuknya yang gemetar namun penuh keyakinan, ia menusuk lembut perut bayi itu dan bertanya: 

"Wahai bayi kecil, siapakah ayahmu?"

Suasana seketika senyap. Angin seolah berhenti berhembus. Tiba-tiba, bibir mungil yang seharusnya hanya bisa menangis itu bergerak dan mengeluarkan suara yang jernih:

"Ayahku adalah sang penggembala kambing."

Orang-orang tersungkur. Rasa malu dan sesal menyergap mereka. Mereka mencoba mencium kaki Jurayj dan menawarkan untuk membangun kembali menaranya dengan emas dan perak. Namun, Jurayj menggeleng lembut dengan mata yang basah, "Tidak. Bangunlah kembali seperti semula, hanya dari tanah liat dan batu."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa rida Allah terletak pada rida orang tua, dan kejujuran akan selalu menemukan jalannya. 

Dalil & Referensi

1. Hadits Sahih (HR. Bukhari & Muslim) Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA,

Rasulullah SAW bersabda: 

لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَىابْنُ مَرْيَمَ، وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ...

"Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam ayunan kecuali tiga orang: 

(1) Isa bin Maryam, 

(2) Bayi di masa Jurayj..."

(Shahih Bukhari No. 3436, Shahih Muslim nomor 2550).

2. Kutipan Kitab Klasik Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang Karomah para wali dan peringatan keras agar tidak mendahulukan ibadah sunnah di atas panggilan orang tua yang bersifat mendesak/wajib bagi anak. (*)