Riwayat Gereja Masehi Injili di Timor
Di bawah langit Timor, matahari bukan sekadar bersinar tapi membakar. Di atas hamparan karang yang keras dan tampak mustahil untuk menghidupi sehelai daun pun, sebuah keajaiban yang sunyi dimulai. Sebutir benih iman jatuh ke celah batu, benih itu berakar, membelah cadas, dan bertumbuh menjadi peneduh yang kini kita kenal sebagai Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Inilah riwayat tentang bagaimana "Gandum Surgawi" dipaksa menyerah oleh alam, namun memilih untuk berbuah lebat.
Kisah ini dimulai seperti riak air yang tenang namun membawa badai, dari geladak kapal Portugis yang dipandu oleh ambisi Gold, Glory, dan Gospel, turunlah seorang lelaki bernama Antonia de Taveiro pada tahun 1556. Membawa salib di tangan kanan dan jubah hitam Ordo Dominikan yang berkibar ditiup angin Solor dan Timor.
Iman pada masa ini ibarat pakaian pinjaman yang belum pas di badan. Berbondong-bondong orang asli Timor menerima baptisan, menghafal Credo dan Doa Bapa Kami dalam bahasa asing yang tak mereka pahami artinya. Ketika kapal-kapal Portugis itu pergi, iman itu menguap seperti embun pagi; banyak yang kembali memeluk pelukan hangat agama leluhur.
Benih itu belum berakar dalam, ia baru menyentuh permukaan tanah, sebelum akhirnya dentum meriam Belanda di Benteng Concordia pada tahun 1613 menutup babak pertama ini.
Lalu datanglah era Belanda, yang datang seperti tiga gelombang pasang, masing-masing membawa warna baru pada kanvas iman di Timor.
Gelombang Pertama (VOC) : Iman di dalam benteng.
Drs. Matheus Van der Broek tiba pada tahun 1614, namun ia bagai gembala di dalam sangkar emas. Tugas utamanya hanyalah menghibur para pegawai kompeni. Namun, air kehidupan tidak bisa dibendung. Perlahan, ia merembes keluar melalui sekolah pertama di Kupang (1701), lalu menyeberang ke Pulau Rote dan Sabu melalui restu para raja lokal. Jemaat Kupang yang semulanya sekecil biji sesawi (54 orang), mulai bertunas menjadi ribuan.
Gelombang Kedua (NZG): Ketulusan yang membumi.
Ketika Ds. R. Le Bruyn tiba pada tahun 1819 membawa aliran Pietisme, iman tidak lagi menjadi milik eksklusif para penguasa. Le Bruyn adalah lilin yang rela habis terbakar demi menerangi kegelapan. Ia menerjemahkan Alkitab ke bahasa Melayu dan merangkul para budak. Melalui ketulusan kaum papa inilah, hati para tuan tanah justru terketuk.
Gelombang Ketiga (Indische Kerk) : Gereja yang diikat birokrasi, namun melahirkan para pembuka jalan.
Ds. J.J. Le Grand di Rote, Ds. William Black yang menembus kabut Alor, dan Ds. P. Middelkoop yang menyelami jiwa bahasa Timor di Soe. Hasilnya? Di Timor Tengah Selatan, jumlah orang percaya melonjak bak air bah yang memberkati, dari ratusan menjadi puluhan ribu jiwa.
Kedatangan Jepang pada tahun 1942 adalah badai api yang membakar habis pohon pelindung. Para pendeta Belanda ditawan. Gereja kehilangan arah, kocar-kacir, dan ditinggalkan tanpa sokongan dana.
Namun, di sinilah keajaiban itu terjadi. Ketika para gembala asing pergi, para domba lokal berdiri menjadi penjaga kawanan. Bapak N. Nisnoni dan Pdt. E. Tokoh memimpin Badan Gereja Timor Selatan. Para pelayan Tuhan tidak lagi makan dari gaji pemerintah, melainkan dari peluh tanah yang mereka cangkul sendiri.
Di Alor, darah Pdt. Dikuanan dan Pdt. Riwu tumpah sebagai martir. Zaman ini adalah tungku perapian yang membakar perak, memisahkan jelaga dari kemurnian iman. Gereja Timor terbukti bukan tanaman manja; ia sanggup hidup di tengah kemarau paling gersang.
Setelah badai perang berlalu, kerinduan untuk berdiri di atas kaki sendiri tak terbendung lagi. Ds. E. Durkstra datang, bukan sebagai tuan, melainkan sebagai bidan yang membantu kelahiran sebuah bayi sejarah.
Tepat pada tanggal 31 Oktober 1947, sebuah proklamasi iman berkumandang. Bayi itu lahir dan diberi nama Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Enam klasis pertama—Kupang, Camplong, Soe, Alor/Pantar, Rote, dan Sabu—berdiri tegak lurus seperti enam tiang agung rumah adat Timor (Ume Kbubu), siap menyangga atap iman mereka sendiri.
Berdiri mandiri bukan berarti tanpa ujian. Tahun-tahun awal (1947-1950) adalah masa penyapihan yang menyakitkan, di mana jemaat harus belajar membiayai diri sendiri setelah "tali pusar" finansial dengan negara dipotong. Mereka kemudian menyusun Tata Gereja baru, menghadapi pergolakan politik Nasakom yang mencekam, hingga menyaring riak gerakan Roh di Soe.
Namun, lihatlah pohon itu sekarang. Jumlah jiwa yang bernaung di bawah rindangnya melonjak drastis, dari ratusan ribu hingga kini tak terhitung banyaknya.
Akhirnya, Gereja Masehi Injili di Timor hari ini bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah sebuah tenunan kain yang benangnya ditarik sejak tahun 1556. Setiap motifnya mengandung keringat misionaris, darah para martir, dan air mata ketulusan para tokoh lokal.
Benih yang dahulu ditanam di atas batu, kini telah memecahkan batu tersebut, berakar kuat ke dalam bumi Timor, dan pucuknya terus menjulang tinggi, menggapai langit, menyanyikan kidung kesetiaan Allah yang abadi. (*)
*) Source : Aprican Tropus
Editor : S. Anwar