Ida Bagus Sudjana, Jenderal Pengawal Sektor Energi Era Orde Baru
Nama Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ida Bagus Sudjana (20 Oktober 1936 – 18 Agustus 2002) tercatat sebagai salah satu putra terbaik Bali yang berhasil menembus jajaran elite militer dan birokrasi nasional. Lahir di Sanur, Sudjana merupakan figur perwira tinggi yang dikenal disiplin, taat beragama, sekaligus teknokrat yang dipercaya menakhodai Kementerian Pertambangan dan Energi di masa-masa krusial akhir era Orde Baru.
Pemuda Sanur di Angkatan Pertama AMN Magelang
Ida Bagus Sudjana menghabiskan masa mudanya di Pulau Dewata. Selepas menyelesaikan pendidikan di Sekolah Lanjutan Umum Tingkat Atas (SLUA) Saraswati Denpasar, ia mengambil langkah besar dengan merantau ke Jawa untuk menempuh pendidikan militer.
Sudjana berhasil diterima dan tercatat sebagai salah satu taruna angkatan pertama Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang yang lulus pada tahun 1960. Di sana, putra seorang pendeta Hindu ini tumbuh bersama rekan seangkatannya yang kelak juga menjadi tokoh besar TNI, Jenderal TNI Edi Sudrajat. Demi memperkuat kapasitas komandonya, Sudjana kemudian konsisten memperdalam ilmu militer di Seskoad (1973), Sesko GAB (1978), hingga Lemhannas (1980).
Rekam Jejak Komando dan Sisi Humanis di Medan Laga
Karier militer Sudjana dimulai pada tahun 1961 sebagai Komandan Peleton Pusat Pendidikan Artileri Medan (Pusdikarmed) di Cimahi, Bandung. Di kota kembang inilah ia bertatap takdir dengan Iskana Parwati, perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidup setianya.
Sebagai perwira Armed, sebagian besar karier lapangan Sudjana dihabiskan bersama Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Jabatan strategis pun berturut-turut diembannya, mulai dari Komandan Yonarmed Kostrad hingga Komandan Resimen Armed Kostrad.
Pengalaman tempurnya teruji ketika ia diterjunkan ke Timor Timur dalam Operasi Seroja. Di tengah kerasnya medan laga, sisi humanis Sudjana terusik melihat banyaknya prajurit yang gugur. Hal ini mendorongnya untuk menginisiasi pendirian Yayasan Wredatama Seroja, sebuah lembaga yang bergerak memberikan santunan serta beasiswa bagi anak-anak tentara yang ditinggal gugur ayahnya.
Setelah itu, ia dipercaya memegang tongkat komando wilayah luar Jawa, termasuk menjabat sebagai Komandan Korem 121/Alambhana Wanawai di Sintang hingga puncaknya menjadi Panglima Kodam XII/Tanjungpura di Kalimantan Barat.
Karier Sudjana kian mengilap di masa kepemimpinan Panglima ABRI Jenderal TNI L.B. Moerdani. Dengan pangkat Mayor Jenderal, Sudjana dipromosikan menjadi Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI. Jabatan militer terakhir jenderal bintang tiga ini adalah sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam).
Menakhodai Kementerian Pertambangan dan Energi
Pada tahun 1993, Presiden Soeharto memanggil Ida Bagus Sudjana ke Istana untuk mengemban tugas sipil yang sangat strategis. Ia dilantik menjadi Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) dalam Kabinet Pembangunan VI untuk periode 1993–1998.
Mengawal Kebijakan Sektor Strategis
Menjadi Menteri Pertambangan dan Energi bukanlah perkara mudah. Di bawah kendalinya, Sudjana bertanggung jawab mengawasi pengelolaan kekayaan alam Indonesia, mulai dari sektor minyak dan gas bumi (migas) yang kala itu masih menjadi penopang utama APBN, hingga proyek-proyek kelistrikan nasional. Ia dikenal sebagai menteri yang tegas dan memegang teguh prinsip keteraturan militer dalam mengelola birokrasi kementerian.
Akhir Perjalanan dan Upacara Ngaben di Tanah Kelahiran
Setelah masa baktinya di kabinet berakhir, Sudjana menikmati masa pensiunnya bersama keluarga. Namun, di masa tuanya, sang jenderal harus berjuang melawan penyakit komplikasi kanker paru-paru dan otak yang menggerogoti kesehatannya.
Setelah sempat menjalani perawatan intensif selama hampir dua bulan, Ida Bagus Sudjana mengembuskan napas terakhirnya di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pada hari Minggu, 18 Agustus 2002 pukul 19.50 WIB dalam usia 65 tahun.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir dan sesuai dengan adat tanah kelahirannya, jenazah ayah tiga anak ini diterbangkan dari Lanud Halim Perdanakusuma menuju Denpasar menggunakan pesawat Pelita Air Service. Sang jenderal penjaga kedaulatan energi ini kemudian dikembalikan ke keabadian melalui upacara adat Ngaben di Desa Sanur, tempat perjalanannya bermula. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : Zainuddin Qodir