Kisah Hidup Siswono Yudo Husodo yang Nyaris Jadi Wapres Soeharto
Panggung politik dan bisnis Indonesia selalu melahirkan kisah-kisah luar biasa, namun tidak banyak yang sekomplet kisah hidup Siswono Yudo Husodo. Ia adalah potret nyata seorang tokoh bangsa yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan—pernah menjadi pengusaha konstruksi papan atas, dipercaya menjadi menteri, hingga bertarung di puncak pesta demokrasi sebagai calon Wakil Presiden (Wapres).
Namun, pesona kekuasaan tidak membuatnya lupa daratan. Di masa senjanya, sosok tangguh ini justru memilih menanggalkan jubah politiknya dan kembali ke tanah untuk menjalani hidup sederhana sebagai seorang petani. Bagaimana liku-liku perjalanannya? Yuk, kita simak!
Mahasiswa yang Diskors hingga Banting Setir Jualan Bawang
Lahir di Long Iram, Kutai Barat, Kalimantan Timur pada 4 Juli 1943, Siswono tumbuh sebagai anak seorang dokter yang kerap berpindah tugas ke berbagai pelosok daerah. Darah kepemimpinannya mulai menggelegar saat ia kuliah di jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1961 dengan aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Barisan Soekarno.
Namun, masa transisi politik pasca-1965 sempat menghempaskan impian akademisnya. Karena keterlibatannya di organisasi pendukung Soekarno, Siswono dijatuhi sanksi skors selama empat tahun dari kampusnya.
Bukannya patah arang, sanksi pahit ini justru menempa mental wirausahanya. Demi menyambung hidup, Siswono banting setir menjadi pedagang hasil bumi dengan menyuplai bawang putih dari Jawa Timur untuk dijual ke pasar-pasar di Jakarta dan Palembang. Setelah badai politik mereda, ia akhirnya diizinkan kembali kuliah dan lulus pada tahun 1968.
Dipercaya Pak Harto Memimpin Dua Kementerian
Setahun pasca-lulus dari ITB, tepatnya tahun 1969, Siswono bersama rekan-rekan kuliahnya mendirikan perusahaan konstruksi PT Bangun Tjipta Sarana. Bisnisnya melesat tajam dan puncaknya, mereka dipercaya memegang proyek sakral: membangun kompleks Makam Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.
Kelihaiannya di dunia usaha membawa Siswono dipercaya memimpin organisasi elite seperti Ketua Umum HIPMI (1973-1977) dan Ketua Persatuan Pengusaha Real Estat Indonesia (REI).
Karier bisnis yang mentereng ini membuat Presiden Soeharto kepincut. Siswono resmi ditarik ke dalam kabinet pemerintahan era Orde Baru untuk mengemban dua posisi krusial:
Menteri Negara Perumahan Rakyat pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993)
Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerja pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998)
Mengguncang Pilpres 2004: Nyaris Menjadi Wakil Presiden
"Dari jenderal pembangunan era Orde Baru, Siswono melangkah gagah mengawal sejarah awal demokrasi langsung di Indonesia."
Pasca-reformasi, nama Siswono Yudo Husodo tetap diperhitungkan di kancah nasional. Puncaknya terjadi pada Pemilu Presiden 2004—sejarah pertama kalinya rakyat Indonesia memilih presiden dan wakil presiden secara langsung.
Siswono maju sebagai calon Wakil Presiden RI mendampingi Capres Amien Rais. Didukung penuh oleh koalisi enam partai politik, pasangan Amien-Siswono sukses mengamankan 14,66 persen suara di putaran pertama. Meski langkah mereka menuju istana harus terhenti, dedikasi politiknya berlanjut di parlemen sebagai Anggota DPR RI (2009-2014) dan menjabat Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR RI sebelum akhirnya pensiun karena faktor usia.
Sisi Lain di Masa Tua: Fasih Urus Domba dan Bertani
Bagi sebagian besar pejabat, masa pensiun mungkin dihabiskan di dalam rumah mewah atau ruang ber-AC. Namun tidak bagi Siswono. Sejak tahun 1999, ia sudah dipercaya memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai Ketua Umum.
Menariknya, kecintaan Siswono pada bumi bukan sekadar urusan organisasi di atas kertas. Insinyur sipil lulusan ITB ini terbukti sangat lihai mempraktikkan ilmu lapangan. Di sela-sela masa tuanya, ia sangat fasih mengawinkan domba, memilih bibit ternak unggul, hingga turun langsung bercocok tanam tembakau dan sayur-mayur bersama warga lokal.
Kini, hari-hari Siswono lebih banyak dihabiskan di hamparan hijau lahan pertanian, menikmati udara segar pedesaan, dan mengalirkan kebermanfaatan langsung bagi para petani kecil. Siswono Yudo Husodo telah membuktikan sebuah teladan indah: bahwa sejauh apa pun manusia melangkah mengejar kekuasaan dan harta, kembali membumi dan bermanfaat bagi tanah air adalah sebuah kebahagiaan sejati. (*)
Editor : Zainuddin Qodir