Joesoef, Wartawan Legendaris Bikin Belanda Ketar Ketir
Menjadi seorang Jurnalis yang kritis di era penjajahan kolonial bukanlah perkara mudah. Risikonya luar biasa besar. Namun, hal itu tidak menciutkan nyali seorang remaja asal tepian Danau Maninjau bernama Prof. H. M. Joesoef Sou’yb.
Lahir di Bayua, Tanjung Raya, Agam, Provinsi Sumatera Barat pada 14 Juli 1916, Joesoef Sou’yb melesat menjadi salah satu singa pers dan intelektual Muslim paling dihormati di Indonesia. Siapa sangka, sepak terjangnya di dunia jurnalistik sudah dimulai sejak ia masih mengenakan celana pendek!
Mulai Mengguncang Pers di Usia 14 Tahun
Darah kepenulisan Joesoef sudah bergejolak sangat dini. Bayangkan, di usia yang baru 14 tahun, ketika remaja lain mungkin masih asyik bermain, Joesoef sudah aktif mengirimkan berita dan laporan ke berbagai surat kabar di Sumatera dan Jawa.
Seiring berjalannya waktu, tulisan Joesoef tidak lagi sekadar melaporkan berita biasa. Ia mulai berani melayangkan kritik-kritik tajam dan pedas terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda.
Beberapa surat kabar besar era kolonial yang menjadi panggung ketajaman penanya antara lain:
Harian Berita (Padang)
Mingguan Penindjauan (Jakarta)
Daulat Rakyat (Jakarta)
Semangat Pemuda (Jakarta)
Fakta Menarik:
Saking jenius dan tajam analisisnya, saat bekerja di harian Berita di Padang pada era 1930-an, ia sudah dipercaya untuk menulis Tajuk Rencana (Editorial). Padahal, kolom prestisius tersebut biasanya hanya boleh diisi oleh seorang Pemimpin Redaksi senior.
Ditempa oleh Pendidikan Surau Klasik
Keberanian dan kedalaman berpikir Joesoef Sou'yb tentu tidak datang begitu saja. Ia adalah produk dari kombinasi pendidikan modern Belanda dan kokohnya basis agama di surau-surau lokal Minangkabau.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar di Agam dan Aceh, Joesoef kembali ke Ranah Minang untuk menimba ilmu di dua institusi Islam paling legendaris: Sumatra Thawalib Padangpanjang dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang. Pendidikan karakter dan agama di sinilah yang membentuknya menjadi sosok yang berprinsip teguh.
Diundang Negara Inggris hingga Menjadi Guru Besar
Pasca-kemerdekaan Indonesia, reputasi Joesoef Sou'yb sebagai intelektual Muslim yang cemerlang kian diakui dunia. Karena prestasi, dedikasi, dan luasnya wawasan yang ia miliki, Joesoef diundang secara resmi oleh Pemerintah Inggris pada tahun 1955 untuk sebuah kunjungan kehormatan.
Di masa purna baktinya, Joesoef Sou’yb memilih menetap di Medan, Sumatera Utara, dan mengabdikan diri di dunia pendidikan sebagai Profesor. Ia menjadi dosen filsafat dan jurnalisme di berbagai kampus besar seperti IAIN, UISU, dan UMSU.
Hingga wafat pada 7 Januari 1993 dalam usia 76 tahun, warisan terbesarnya yang tetap abadi adalah puluhan jilid buku mengenai Sejarah Islam yang hingga kini masih menjadi rujukan utama para akademisi. (*)
Editor : S. Anwar