Budi Arie Setiadi, Dikenal Sebagai Jurnalis Bandel
Dalam konstelasi politik Indonesia modern, nama Budi Arie Setiadi menempati posisi ikonik sebagai simbol kekuatan relawan politik. Pria kelahiran Jakarta, 20 April 1969 ini merupakan arsitek utama di balik berdirinya Projo, organisasi relawan darat terbesar yang sukses mengawal Joko Widodo (Jokowi) memenangkan dua kali pemilu presiden, serta ikut andil memenangkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024.
Lahir dari pasangan Joko Asmoro dan Pudji Astuti, perjalanan hidup pria yang akrab disapa Budi Arie ini melintasi berbagai dunia yang dinamis: dari dunia aktivis mahasiswa yang militan, jurnalisme yang kritis, gurita bisnis, hingga akhirnya menembus jajaran elite menteri kabinet.
Akar Aktivis UI dan Pena Kritis Dunia Jurnalistik
Budi Arie menghabiskan masa mudanya di Jakarta. Setamat dari SMA Kolese Kanisius, ia melanjutkan studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Di kampus jaket kuning inilah bakat kepemimpinannya terasah. Di kalangan rekan kuliahnya, ia akrab dipanggil "Muni".
Selama di UI, ia dipercaya menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP UI (1994) dan anggota Presidium Senat Mahasiswa UI (1994–1995). Hasrat menulis membawanya menjadi Pemimpin Redaksi majalah mahasiswa Suara Mahasiswa UI. Jiwa protesnya yang tinggi bahkan sempat membuat Dekan FISIP saat itu kerap menyindirnya agar segera menyelesaikan skripsi. Budi akhirnya meraih gelar Sarjana Sosial pada tahun 1996 dan melanjutkan S2 Manajemen Pembangunan Sosial di UI yang rampung pada 2006.
Selepas kuliah, Budi menerjunkan diri ke dunia pers profesional. Ia aktif mengelola mingguan Media Indonesia (1994–1996) sebelum akhirnya bersama para seniornya membidani lahirnya Mingguan Ekonomi Kontan. Sebagai jurnalis Kontan (1996–2001), tulisan-tulisan Budi terkenal tajam dan kerap mengkritik para pebisnis besar, hingga ia pernah ditegur langsung oleh sang maestro pers, Jakob Oetama, karena pemberitahuannya yang dinilai terlalu keras. Saat badai reformasi 1998 bergejolak, Budi juga menginisiasi penerbitan surat kabar kritis bernama BERGERAK.
Transformasi Dunia Bisnis dan Kepakan Sayap Politik
Memasuki era 2000-an, Budi Arie beralih ke dunia korporasi. Ia menjabat sebagai Presiden Direktur PT Mandiri Telekomunikasi Utama (2001–2009) dan General Manager Tabloid Bangsa (2008–2009). Gurita bisnisnya kemudian meluas dengan memimpin sejumlah perusahaan non-media, seperti PT Daya Mandiri, NKR Investama, Sarana Global Informasi, dan Mitra Lumina Indonesia.
Di panggung politik, Budi awalnya meniti karier struktural melalui PDI Perjuangan. Ia pernah menduduki posisi strategis sebagai Kepala Balitbang PDI Perjuangan DKI Jakarta (2005–2010) dan Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta.
Lompatan politik terbesarnya terjadi pada Agustus 2013, ketika ia mendirikan Projo (Pro-Jokowi). Di saat struktural partai masih bimbang menentukan calon presiden, Projo bergerak agresif mengumpulkan aspirasi akar rumput demi mendorong pencalonan Joko Widodo. Gerakan relawan ini sukses menjadi salah satu mesin politik paling efektif di Indonesia.
Menembus Kabinet: Dari Wamen hingga Menkominfo
Pascakemenangan Jokowi, dinamika hubungan Projo dan kekuasaan sempat diuji. Ketika Kabinet Indonesia Maju dibentuk pada Oktober 2019 dan merangkul Prabowo Subianto, Projo sempat menyatakan pembubaran diri karena kekecewaan mendalam. Namun, ketegangan itu mencair setelah Presiden Jokowi menunjuk Budi Arie sebagai Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT) periode 2019–2023.
Karier eksekutifnya mencapai puncak pada 17 Juli 2023. Menyusul penangkapan Johnny G. Plate akibat skandal korupsi proyek menara BTS 4G, Presiden Jokowi mempercayakan posisi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) kepada Budi Arie. Langkah pengangkatan ini sempat memantik perdebatan publik dan kritikan tajam karena dianggap sebagai bentuk "politik balas budi" menjelang pemilu 2024. Setelah masa jabatan kabinet tersebut berakhir, dedikasi dan kiprahnya berlanjut di pemerintahan baru, di mana ia dipercaya mengemban amanat sebagai Menteri Koperasi Indonesia.
Sisi Pribadi dan Deretan Kontroversi
Di luar panggung politik, Budi Arie menjalani kehidupan rumah tangga bersama Zara Murzandina dan dikaruniai dua orang anak. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di KPK, ia tercatat memiliki kekayaan fantastis senilai Rp101 miliar yang tersebar dalam bentuk aset tanah, bangunan, dan investasi di berbagai kota, termasuk tanah warisan di Bekasi dan Padang.
Sepanjang kiprahnya sebagai pejabat publik, sosok Budi Arie tidak luput dari sorotan kamera dan kontroversi. Beberapa pernyataannya di ruang publik sempat memicu polemik netizen, mulai dari wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode, gurauan tentang status artis promotor judi online, hingga foto lawas tahun 2015 di akun Facebook pribadinya saat berpose bersama tentara Israel yang sempat viral kembali. Selain itu, masa jabatannya di Kemenkominfo juga diuji oleh tantangan berat terkait integritas institusi, menyusul penangkapan sejumlah oknum pegawai kementerian yang belakangan terbukti menyalahgunakan wewenang dengan menjadi operator bandar judi online.
Bagi publik, figur Budi Arie Setiadi adalah potret nyata bagaimana seorang aktivis pers mampu mengonsolidasikan massa akar rumput menjadi kekuatan politik riil, hingga mengantarkannya ke lingkaran terdalam pemegang kebijakan republik. (*)
Editor : S. Anwar