Kisah Ahmad Yani Ditembak Mati oleh Prajuritnya Sendiri

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ahmad Yani
Ahmad Yani
grosir-buah-surabaya

19 Juni 1922. Di Jenar, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, lahir seorang anak lelaki dari pasangan Sarjo bin Suharyo dan Murtini. Namanya Ahmad Yani. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang cerdas, tangkas, dan selalu menjadi ketua kelompok anak-anak di kampungnya. Ketertarikannya pada dunia militer tumbuh karena lingkungan tempatnya tinggal penuh dengan cerita kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Perjalanan karier militer Ahmad Yani tidak main-main. Ia mulai dari bawah — bergabung dengan tentara PETA semasa penjajahan Jepang, lalu berjuang dalam perang kemerdekaan melawan Belanda. Ia terlibat dalam menumpas pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Ia menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat. Dan pada 13 November 1963, Presiden Sukarno mengangkatnya sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat — jabatan tertinggi di jajaran Angkatan Darat Indonesia.

Di puncak kariernya, Ahmad Yani bukan hanya jenderal yang ditakuti musuh. Ia adalah pemimpin yang dicintai anak buahnya. Dikenal tegas tapi adil. Keras pada prinsip tapi hangat pada manusia.

Dan justru karena sifat-sifat itu, ia menjadi target.

Pada pertengahan 1965, Indonesia dalam kondisi yang sangat panas. PKI berkembang pesat. Isu Dewan Jenderal beredar. Ahmad Yani menolak pembentukan Angkatan Kelima yang akan mempersenjatai rakyat sipil — keputusan yang membuat Partai Komunis Indonesia (PKI) memandangnya sebagai penghalang utama.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 WIB, pasukan Cakrabirawa mengepung kediaman Ahmad Yani di Jalan Lembang nomor D58, Menteng, Jakarta Pusat.

Para penculik mengatakan ia akan dibawa menghadap Presiden. Ahmad Yani meminta waktu untuk mandi dan berganti pakaian. Permintaan itu ditolak. Ahmad Yani marah, menampar salah satu penculik, dan berusaha menutup pintu rumahnya.

Detik itu juga, seorang anggota Cakrabirawa bernama Serda Gijadi melepaskan tembakan. Ahmad Yani tertembak di depan kamarnya sendiri. Disaksikan oleh anak-anaknya.

Jenazahnya bersama enam perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) lainnya dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan disembunyikan dalam sebuah sumur tua. Baru pada 4 Oktober 1965 jenazahnya ditemukan. Tanggal 5 Oktober, ia dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Usianya 43 tahun.

Pada hari yang sama, Ahmad Yani dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan pangkatnya dinaikkan menjadi Jenderal Anumerta.

Hari ini, rumah tempat ia ditembak di Jalan Lembang, Menteng itu sudah menjadi museum. Namanya diabadikan di jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia. Dan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, ada nisan yang menyimpan kisah seorang pria yang mencintai bangsanya sampai mati — secara harfiah. (*)