Arcandra Tahar, Pakar Migas Dunia Pemilik Paten Internasional
Di kalangan industri minyak dan gas bumi (migas) internasional, nama Dr. Arcandra Tahar dikenal sebagai salah satu teknokrat genius asal Indonesia. Pria kelahiran 10 Oktober 1970 ini merupakan seorang ahli rekayasa lepas pantai (offshore engineer) yang memegang sejumlah hak paten berkelas dunia di Amerika Serikat. Pemikirannya yang taktis di sektor energi sempat membawanya masuk ke lingkaran pemerintahan sebagai menteri dan wakil menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Langkah Arcandra di dunia teknologi bermula dari kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia menempuh studi Sarjana (S-1) di jurusan Teknik Mesin ITB pada tahun 1989. Setelah lulus, ia sempat meniti karier profesional di perusahaan konsultan global, Andersen Consulting.
Menaklukkan Pusat Riset Energi di Texas
Sadar akan potensi sektor energi global, Arcandra memilih bertolak ke Amerika Serikat untuk memperdalam keilmuannya. Ia melanjutkan studi Magister (S-2) di Texas A&M University, sebuah kampus yang sangat tersohor di bidang riset teknologi migas. Tak berhenti di sana, ia langsung menyelesaikan program Doktoral (S-3) di universitas yang sama hingga meraih gelar Ph.D.
Berbekal kepakaran akademisnya, Arcandra menetap di Amerika Serikat dan menjadi konsultan senior di berbagai perusahaan energi multinasional. Keahliannya diakui secara global ketika ia berhasil menciptakan sekaligus mematenkan sejumlah desain teknologi struktur terapung lepas pantai (offshore floating structures) di Amerika Serikat, yang menjadi terobosan penting bagi industri migas dunia.
Peran di Blok Masela dan Dinamika Kabinet
Nama Arcandra mulai mencuri perhatian publik nasional ketika ia memberikan masukan strategis kepada Presiden Joko Widodo terkait pengelolaan Blok Masela di Laut Arafura. Menggunakan analisis teknis dan ekonomisnya, Arcandra meyakinkan pemerintah bahwa eksplorasi lapangan gas raksasa tersebut akan jauh lebih menguntungkan bagi kepentingan nasional jika dilakukan di darat (onshore) ketimbang di laut (offshore). Argumentasi ini memengaruhi keputusan krusial Presiden untuk beralih ke skema darat demi memaksimalkan efek domino ekonomi bagi masyarakat lokal.
Kontribusi pemikirannya membuat Presiden Joko Widodo melantik Arcandra sebagai Menteri ESDM menggantikan Sudirman Said dalam perombakan kabinet pada 27 Juli 2016. Namun, langkahnya di awal birokrasi sempat terganjal isu administrasi. Menyusul polemik dwikewarganegaraan yang mencuat ke publik, ia diberhentikan dengan hormat pada 15 Agustus 2016, menjadikannya salah satu menteri dengan masa jabatan tersingkat dalam sejarah politik tanah air.
Meski demikian, pemerintah menilai kepakaran dan keahlian teknis Arcandra terlalu berharga untuk dilepaskan. Setelah status kewarganegaraan Indonesianya diselesaikan secara hukum, Presiden Joko Widodo kembali menariknya ke kabinet. Pada 14 Oktober 2016, ia resmi dilantik menjadi Wakil Menteri ESDM untuk mendampingi Menteri Ignasius Jonan.
Duet Jonan-Arcandra dikenal sangat kompak dalam menata tata kelola energi nasional, termasuk dalam penerapan skema Gross Split untuk kontrak migas dan percepatan divestasi saham PT Freeport Indonesia, hingga masa jabatan mereka berakhir pada 20 Oktober 2019.
Melalui perjalanan kariernya yang penuh dinamika, Arcandra Tahar menjadi potret nyata dari seorang diaspora berprestasi yang memilih pulang ke tanah air. Kombinasi antara kecerdasan akademis tingkat dunia dan kecintaan pada tanah air menjadikannya sosok teknokrat yang memberikan pengaruh nyata pada arah kebijakan energi nasional. (*)
Editor : Bambang Harianto