Mashuri Saleh Nekat Copot Plang Jalan Demi Sahkan Ejaan Yang Disempurnakan
Setiap hari kita mengetik pesan, membaca berita, hingga menyusun dokumen resmi menggunakan aturan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Namun, jarang ada yang tahu bahwa peresmian tata bahasa nasional tersebut diwarnai oleh sebuah aksi simbolis yang cukup nekat dari seorang menteri.
Ia adalah Mashuri Saleh, S.H., Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru. Demi menandai lahirnya era baru bahasa Indonesia, Mashuri Saleh turun langsung mencopot papan nama jalan di depan kantor departemennya. Sebuah aksi berani yang menjadi awal dari bersatunya sistem penulisan bahasa di seluruh pelosok negeri.
Bagaimana kisah lengkap sang menteri genius ini?
Aksi Simbolis: Dari "Djl. Tjilatjap" Menjadi "Jl. Cilacap"
Karier Mashuri di dunia pendidikan begitu mentereng. Berawal dari birokrat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun 1966. Kapasitasnya yang luar biasa membuat Presiden Soeharto kemudian mengangkatnya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Pembangunan I (1968–1973).
Di kursi menteri inilah, Mashuri menorehkan warisan terbesar bagi literasi bangsa. Pada 23 Mei 1972, ia secara resmi mengesahkan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) untuk menggantikan Ejaan Soewandi yang sudah usang.
Untuk meyakinkan publik dan menandai perubahan besar tersebut, Mashuri melakukan aksi unik. Ia mencopot plang nama jalan yang melintas tepat di depan kantornya, mengubah tulisan ejaan lama "Djl. Tjilatjap" menjadi ejaan modern "Jl. Cilacap". Langkah visual ini sukses menarik perhatian masyarakat dan memicu gelombang modernisasi penulisan bahasa Indonesia secara serentak.
Mantan Pejuang Anak Buah Slamet Riyadi
Integritas dan keberanian Mashuri tidak datang begitu saja. Karakter ketegasannya ditempa langsung di medan pertempuran masa muda. Pada masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, Mashuri aktif angkat senjata berjuang bersama Brigade V Batalyon 55 CSA di Surakarta.
Mashuri Saleh berada di bawah komando pahlawan legendaris Letkol Slamet Riyadi. Menariknya, salah satu anak buah Mashuri di medan perang saat itu adalah Sri Mulyono Herlambang, yang di kemudian hari sukses menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU). Usai perang kemerdekaan, Mashuri memilih melanjutkan pendidikan hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga meraih gelar Sarjana Hukum.
Saksi Kunci Subuh Mencekam G30S
Selain menjadi tokoh penting di dunia literasi, nama Mashuri Saleh ternyata terpatri dalam sejarah sebagai salah satu saksi mata peristiwa Gerakan 30 September (G30S).
Pada subuh berdarah 1 Oktober 1965, Mashuri yang kebetulan sedang berada di luar menyaksikan adanya pergerakan militer yang sangat mencurigakan di daerah Jakarta Pusat. Menyadari situasi darurat tersebut, ia langsung bergerak cepat melaporkan kejanggalan itu kepada Jenderal Soeharto, yang saat itu merupakan tetangga dekat rumahnya. Informasi awal dari Mashuri ini menjadi salah satu kepingan penting bagi Soeharto dalam memetakan situasi ibu kota yang tengah mencekam.
Pengabdian Tanpa Batas hingga Akhir Hayat
Sukses mereformasi bahasa nasional, karier Mashuri terus melejit. Ia kemudian digeser menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Pembangunan II (1973–1978). Lepas dari jajaran eksekutif, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua MPR/DPR RI (1977–1982) mewakili Golkar, sebelum akhirnya ditunjuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1982–1986.
Di masa tuanya, Mashuri Saleh memilih pulang kampung dan menetap di Surakarta, kota kelahiran sang istri, Liestinah Mashuri. Di kota bersejarah ini, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan bersahaja sembari berjuang melawan penyakit hepatitis stadium empat.
Sang penata bahasa nasional ini mengembuskan napas terakhirnya pada 1 April 2001 di usia 75 tahun. Meninggalkan seorang istri dan enam orang anak, ia dimakamkan secara terhormat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bhakti, Jurug, Surakarta. Meski sosoknya telah tiada, setiap huruf dan kata yang kita tulis hari ini adalah warisan abadi dari sang menteri genius. (*)
Editor : Bambang Harianto