Fuad Hassan Jadi Menteri Pendidikan Legendaris Indonesia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Prof. Dr. Fuad Hassan
Prof. Dr. Fuad Hassan
grosir-buah-surabaya

Garis hidup seseorang memang misteri. Banyak tokoh besar dunia yang mengawali langkah mereka dari jalur yang sama sekali berbeda dengan puncak pencapaiannya. Hal inilah yang menggambarkan perjalanan hidup Prof. Dr. Fuad Hassan, salah satu Menteri Pendidikan paling legendaris yang pernah dimiliki Indonesia.

Siapa sangka, pria yang menghabiskan bertahun-tahun merumuskan arah pendidikan bangsa di era Presiden Soeharto ini, dulunya hampir menjadi seorang pemain biola profesional di Roma, Italia.

Panggilan Seni yang Nyaris Mengubah Takdir

Lahir pada 26 Juni 1929, Fuad Hassan muda adalah seorang pemuda yang tumbuh dengan kecintaan mendalam pada dunia seni. Di saat anak-anak seusianya bergulat dengan cita-cita konvensional, Fuad justru bermimpi besar untuk menjadi seorang konduktor musik.

Bakat seninya tidak main-main. Ia terampil melukis, mahir berkuda, dan jemari tangannya sangat piawai menggesek biola. Puncak dari ambisi musiknya terjadi saat ia menginjak usia 21 tahun. Dengan penuh keberanian, Fuad Hasan mengikuti tes masuk ke sebuah sekolah musik bergengsi di Roma, Italia.

Lolos tes di Eropa tentu bukan perkara mudah, dan Fuad membuktikan kapasitasnya. Namun, takdir memiliki rencana lain. Atas saran dan pengaruh kuat dari seorang sahabat karibnya, Fuad memutuskan urung mengasah kemampuan bermusiknya di Italia. Ia memilih pulang dan memutar kemudi hidupnya secara drastis: mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI).

Dari Ruang Kuliah ke Panggung Diplomasi Dunia

Pilihan yang sempat disayangkannya itu ternyata menjadi pembuka jalan pengabdian yang jauh lebih luas bagi Indonesia. Selepas menggondol gelar sarjana psikologi pada 1958, Fuad melanjutkan studi filsafat di Universitas Toronto, Kanada, sebelum akhirnya meraih gelar doktor dan dikukuhkan sebagai Guru Besar Psikologi Pendidikan di Universitas Indonesia.

Kecerdasan analitis dan diplomasinya yang tajam membuat Fuad tidak bisa "dikurung" di dalam ruang kelas saja. Negara mulai memanggilnya untuk tugas-tugas berat. Antara tahun 1966 hingga 1976, ia aktif mengajar para perwira di Seskoad, Seskoal, dan Lemhannas.

Karier politiknya merekah saat menjadi anggota DPR/MPR RI (1968–1970). Bahkan, pemerintah kemudian mempercayainya menjadi ujung tombak diplomasi sebagai Duta Besar RI untuk Mesir, merangkap Sudan, Somalia, dan Jibuti pada periode 1976–1980.

Menakhodai Pendidikan Nasional dan Warisan Abadi

Puncak pengabdian sang mantan "calon musisi" ini terjadi pada 30 Juli 1985. Fuad Hassan resmi dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menggantikan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto yang wafat. Kepemimpinannya yang humanis, cerdas, dan bervisi luas membuat Presiden Soeharto kembali mempercayainya di posisi yang sama pada periode berikutnya.

Meski sibuk mengurus negara, Fuad tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia seni dan filsafat. Pikirannya yang tajam melahirkan buku legendaris berjudul "Berkenalan Dengan Eksistensialisme" yang menjadi buku "wajib" para mahasiswa humaniora dan terus dicetak ulang hingga puluhan tahun kemudian. Atas dedikasinya, ia juga dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari Korea Selatan dan Malaysia pada tahun 1990.

Sang maestro filsafat dan pendidikan ini mengembuskan napas terakhirnya pada 7 Desember 2007 di usia 78 tahun akibat kanker paru-paru stadium 3. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan penghormatan penuh.

Biola di Italia mungkin kehilangan salah satu calon pemain terbaiknya, namun Indonesia memenangkan seorang pionir pendidikan yang meletakkan fondasi kecerdasan bangsa. (*)

*) Source : Nasrul Koto