Memori Padang Panjang dan Jejak Emas Fasli Jalal

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D
Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D
grosir-buah-surabaya

Sejarah mencatat banyak tokoh besar Indonesia lahir dan dibesarkan di bawah hembusan udara sejuk Kota Padang Panjang. Di kota yang dikenal sebagai Serambi Mekkah dan episentrum pendidikan Islam modern di Minangkabau inilah, langkah awal seorang guru bangsa dimulai. 

Ia adalah Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, seorang akademisi, birokrat ulung, dan pakar gizi masyarakat yang jejak pengabdiannya membentang dari klinik pesantren lokal hingga kursi Wakil Menteri Pendidikan Nasional di ibu kota.

Nafas Pendidik dan Pengabdian Awal di Diniyyah Puteri

Fasli Jalal lahir pada 1 September 1953 dari pasangan Engku Djalal Ibrahim dan Rinjani Syarif. Kedua orang tuanya adalah potret pendidik sejati asal Nagari Tanjuang Bonai, Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Sang ayah juga dikenal luas sebagai aktivis dan penggerak Muhammadiyah yang gigih di Sumatra Barat.

Atmosfer intelektual dan religius Padang Panjang membentuk karakter Fasli kecil. Di kota ini, kedua orang tuanya membaktikan diri sebagai pengajar di Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang—pesantren modern khusus perempuan pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Sang ayah bahkan dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah MAS KMI Diniyyah Puteri.

Ikatan emosional dengan pesantren ini pula yang memanggil jiwa pengabdian Fasli muda. Setelah menamatkan sekolah menengah di SMA Negeri Padang Panjang dan sukses merengkuh gelar profesi dokter dari Universitas Andalas (Unand) Padang pada tahun 1981, dr. Fasli Jalal memilih kembali ke Diniyyah Puteri. Ia mendedikasikan waktu dan ilmunya untuk memimpin klinik kesehatan pesantren yang baru saja didirikan kala itu. Sebuah langkah awal yang bersahaja, namun penuh makna kemanusiaan.

Melompat ke Cornell University dan Tempaan Kelas Dunia

Hasratnya untuk membawa dampak yang lebih luas di bidang kesehatan masyarakat mendorong dr. Fasli Jalal untuk terus memperdalam keilmuannya. Ia memutuskan terbang ke Amerika Serikat dan berhasil menembus salah satu kampus elite dunia, Cornell University di Ithaca, New York. Pada tahun 1991, ia sukses menyandang gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) di bidang Ilmu Gizi Masyarakat dengan minor di bidang Epidemiologi dan Program Studi Asia Tenggara.

Sepulang dari Amerika, kapasitas kepemimpinannya terus diasah lewat berbagai program eksekutif internasional berkelas global. Mulai dari pelatihan pengentasan kemiskinan Bank Dunia di Malaysia, pelatihan dampak ekonomi HIV/AIDS di India, hingga program elit Executive Development Program hasil kolaborasi Universitas Harvard, Universitas Stanford, dan Bank Dunia di Amerika Serikat.

Arsitek Kebijakan: Dari Bappenas, Dikti, hingga Kursi Wakil Menteri

Amunisi keilmuan kelas dunia tersebut membawa Fasli Jalal masuk ke dalam sistem birokrasi tertinggi negara. Kariernya di sektor perencanaan pembangunan dimulai di Bappenas pada tahun 1991. Selama hampir satu dekade di Bappenas, ia dipercaya memimpin berbagai biro strategis, mulai dari Biro Kesehatan dan Gizi, Biro Kesejahteraan Sosial, hingga Biro Agama, Pendidikan, Kebudayaan, dan Olahraga.

Kecemerlangan analisisnya membuat Departemen Pendidikan Nasional kepikat. Fasli kemudian hijrah dan dipercaya memegang tongkat komando krusial secara beruntun, mulai dari Staf Ahli Menteri (2000), Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (2001–2005), Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (2005–2007), hingga puncaknya sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) pada periode 2007–2010.

Dedikasi tanpa batas di dunia pendidikan mencapai puncaknya pada 6 Januari 2010. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk dan mengangkat Prof. Fasli Jalal sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional dalam Kabinet Indonesia Bersatu II, mendampingi Menteri Mohammad Nuh.

Nakhoda BKKBN, Pejuang Anti-Stunting, dan Rektor Universitas Yarsi

Selesai mengabdi di kementerian, negara kembali memanggilnya untuk memimpin Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai Kepala Badan periode 2013–2015. Di lembaga ini, ia bertanggung jawab langsung kepada Presiden dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan merevitalisasi gerakan KB nasional.

Di luar deretan jabatan mentereng tersebut, sumbangsih terbesar Prof. Fasli Jalal bagi peradaban bangsa adalah komitmen keilmuannya dalam memerangi stunting (tengkes) di Indonesia. Sebagai pakar gizi, ia adalah salah satu pemikir utama yang konsisten mengampanyekan pentingnya gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan serta mendorong implementasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang holistik dan integratif.

Kini, di usianya yang matang, sang anak nagari dari Padang Panjang ini masih terus mengabdi. Sejak dilantik pada tahun 2019, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, aktif menakhodai Universitas Yarsi Jakarta sebagai Rektor. Perjalanan hidupnya—dari seorang dokter muda yang mengurus klinik kesehatan pesantren di kaki Gunung Singgalang hingga menjadi arsitek kebijakan nasional di Jakarta—adalah sebuah jejak emas yang akan terus menginspirasi generasi muda Indonesia. (*)

*) Source : Nasrul Koto